Hujan rintik-rintik, ketika mobil van yang saya tumpangi bergerak menuju Princeton, sebuah kota kecil di Illinois. Jam menunjukkan pukul empat sore. Saya pergi berempat: dengan Iqra, Bu Srie, dan Liz. Semuanya bule Indonesia, kecuali Liz. Ia penduduk lokal :)
Kami pergi, mewakili Pusat Studi Asia Tenggara di Northern Illinois University, memenuhi undangan dari Perpustakaan Princeton. Mereka meminta kami berbicara tentang Islam. Kebetulan mereka membuat program yang disebut "Muslim Journeys". Tujuannya adalah memberikan pengenalan dan pengetahuan tentang Islam bagi masyarakat Princeton. Selama program tersebut, perpustakaan ini membuat rak khusus buku Islam, menyelenggarakan diskusi tentang Islam, dan membuat taman kecil di tengah perpustakaan yang merepresentasikan budaya Islam, yang mereka sebut "Islamic garden". Saya sempat tanya ke Ron, koordinator program ini, dari mana dia dapat ide Islamic garden tersebut. Katanya, ide tersebut diilhami oleh taman di Taj Mahal. Ia ambil contohnya di internet, kemudian dia buat miniaturnya di perpustakaan.
Saya kira program ini sangat tepat diselenggarakan di Princeton. Di sini tidak ada masjid. Tidak seperti di DeKalb, yang komunitas Muslimnya lumayan. Di kota ini, mungkin malah tidak ada orang Islam. Kata Liz, yang kebetulan besar di Princeton, ia tidak pernah tahu ada orang Islam tinggal di kota tersebut. Jadi bisa dibilang informasi tentang Islam di kota ini sangat jarang. Kecuali tentu jika seseorang mau browsing di Internet atau mencari sendiri informasi tersebut. Karena itu, saya merasa program ini cukup strategis untuk lebih mengenalkan Islam dan meminimalisasi Islamophobia yang konon meningkat pasca peristiwa 11 September.
Dari DeKalb, kami membutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk sampai ke Princeton. Jarak tempuhnya sekitar 70 mil. Tapi mobil berjalan santai saja. Berjalan ke arah barat sejauh 37 mil, melewati highway 88. Kemudian belok ke selatan, melalui "jalanan desa" yang agak sepi. Kanan kiri yang terlihat hanyalah padang ilalang, rumput dan persawahan. Sesekali terlihat rumah penduduk berdiri sendiri, jauh dari tetangga. Tipikal rumah-rumah di pedalaman midwest. Mengingatkan saya pada suasana pedesaan Amerika di serial favorite saya, Little House on the Prairie.
Sampai di Princeton, kami diajak Liz keliling kota. Mengenang masa lalunya, dan mengenali sudut-sudut kota yang bersejarah. Termasuk berkunjung ke sebuah tanah lapang di mana senator Lincoln (kelak Presiden Amerika ke-16) memberikan pidato politiknya. Puas berkeliling kota, kami mampir ke rumah orang tua Liz, yang menyambut kedatangan kami dengan hangat. Kami pun berbasa-basi dan sedikit bercerita tentang rencana di Perpustakaan. Ayah Liz ternyata sudah tahu program tersebut. Ia membaca koran lokal, yang kebetulan memuat agenda tentang acara itu. Tak lama, kami pun pamit dan kemudian bertolak ke perpustakaan.
***
Singkat cerita, acara dimulai jam 18.30. Yang hadir cuma 20-an orang. Tapi cukup lumayan untuk kota sekecil Princeton. Apalagi hari itu hari kerja, bukan weekend. Setelah dibuka oleh Ron, saya memulai dengan ceramah tentang Islam secara umum. Saya menjelaskan tentang sejarah, pengertian, dan prinsip-prinsipnya. Saya juga jelaskan tentang faktor-faktor sosial dan budaya yang pada akhirnya mempengaruhi keragaman wajah Islam di berbagai belahan dunia. Setelah itu Bu Srie menjelaskan secara spesifik tentang Islam di Indonesia. Beliau bercerita tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia. Ia juga menjelaskan tentang beberapa karakteristik Islam dan Muslim di Indonesia, yang mungkin membedakannya dengan Islam dan Muslim di tempat lain. Sekitar empat puluh lima menit kami presentasi, acara dilanjutkan dengan tanya jawab.
Di luar dugaan saya, pertanyaan datang silih berganti dari "jamaah". Bahkan ada perempuan tua yang selama presentasi tampak duduk diam seperti tidur, juga mengacungkan tangannya. Ia bertanya sejauh mana Alquran versi terjemahan dekat dengan versi aslinya yang berbahasa Arab. Para penanya lainya bertanya seputar Islam dan perempuan, budaya masyarakat, pengalaman ber-Islam di Amerika, dan lain-lain.
Dari beragam pertanyaan tersebut, ada satu pertanyaan yang "nyentrik", dari seorang bapak berambut putih dan berkaca mata. Bapak ini mengacungkan tangannya. Dengan mantap ia berkata, "Saya ingin menanyakan salah satu prinsip dalam Islam yang tadi kau jelaskan. Yaitu soal taqiyah". What? Taqiyah? Hahaha… Saya sama sekali tidak menyebut soal taqiyyah dalam ceramah saya. Apalagi menyebutnya sebagai salah satu prinsip dalam Islam. Ini artinya, dia telah menyiapkan pertanyaan ini dari rumah, tanpa memperhatikan apakah saya menyinggung soal taqiyah atau tidak. Tentu saja saya lantas menduga bahwa orang ini sebenarnya tahu apa itu taqiyah. Dia sengaja menanyakan ini untuk maksud-maksud tertentu. Sekedar informasi, taqiyah adalah salah satu prinsip dalam syi'ah, yang konon dengan prinsip ini orang syi’ah diperkenankan “berbohong” untuk melindungi siapa dan bagaimana mereka.
Saya tidak langsung menjawab pertanyaan Bapak tua ini. Saya mencoba memancingnya untuk menjelaskan sendiri apa konsep itu. Benar saja. Dia menjelaskan konsep taqiyah, sebagaimana yang saya pahami. Akhirnya saya menjelaskan bahwa taqiyah sama sekali tidak dikenal dalam teologi Islam sunni. Saya bilang, konsep ini “mungkin” dikenal dalam teologi syiah, tapi tidak di sunni. Saya mengatakan "mungkin", karena saya mempelajari konsep ini ketika sekolah di Aliyah (SLTA). Pengetahuan tersebut saya dapat dari seorang guru yang sunni, dan melalui bacaan-bacaan yang ditulis oleh orang sunni pula. Apakah benar orang syiah memegang konsep ini atau tidak, saya belum pernah mempelajarinya lebih lanjut. Bapak ini cuma diam tak berkomentar, dan mempersilahkan penanya lain untuk bertanya.
Ala kulli hal, acara berlangsung lancar. Diskusi berjalan hangat hingga pukul 20.15. Antusiasme peserta membuat diskusi molor dari waktu yang dijadwalkan. Bahkan beberapa peserta mendekati kami untuk bertanya atau menyampaikan apresiasinya usai Ron menutup acara. Kami pun senang, dan berharap apa yang kami sampaikan bisa menambah wawasan dan pengetahuan mereka tentang Islam.
Tuesday, July 30, 2013
Friday, February 8, 2013
Tafsir Surat Besi
Namanya Surat Al-Hadid, atau Surat Besi. Ini surat ke-57 dalam Al-Quran. Nama ini diambil dari ayat ke-25, yang menyebutkan tentang penciptaan besi dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Nama “besi” ini menarik, karena ia hanya tercantum dalam satu ayat saja, dari 29 ayat yang terdapat di dalamnya. Apa kira-kira rahasia di balik ini?
Kalau kita perhatikan ayat demi ayat, surat ini sebenarnya memberikan resep tentang bagaimana menjadi “besi” dalam kehidupan. Kemampuan kita dalam menghayati dan mengamalkan resep “besi” ini dapat memberikan kekuatan tersendiri untuk menghadapi kerasnya hidup. Resep “besi” tersebut terlihat dalam tiga pesan utama yang terkandung di dalamnya.
Pertama tentang iman kepada Allah. Pesan iman ini tersebar di berbagai ayat, baik di bagian awal maupun di bagian akhir surat. Iman diperintahkan sebagai salah satu konsekuensi logis dari perjanjian yang telah dibuat antara Allah dengan kita sejak sebelum ruh ditiupkan ke jasad kita (QS. Al-Hadid: 8. Lihat pula QS. Al-A’raf: 172). Surat ini menegaskan bahwa orang yang beriman akan mendapatkan cahaya dan jalan terang (ayat 19 & 28). Cahaya dan jalan terang ini sangat diperlukan ketika kita menghadapi kegelapan atau kesulitan hidup. Dalam situasi sulit, hati dan pikiran kadang terasa sempit. Situasi bisa gelap, lantaran tak tahu bagaimana mengatasinya. Iman kepada Allah, Sang Maha Penolong, akan mengantarkan kita kepada cahaya. Cahaya tersebut akan mendatangkan rasa tenteram, aman, dan melahirkan optimisme akan hadirnya jalan keluar atas sebuah persoalan.
Kedua tentang kemahakuasaan Allah. Surat Al-Hadid mengajarkan bahwa Allah Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan (ayat 2 & 17). Dia yang menghadirkan kesulitan, Dia pula sumber jalan keluar. Sangat mudah bagi Allah untuk “menerangkan” atau “menggelapkan” kehidupan seseorang (ayat 9). Allah menegaskan bahwa diri-Nya adalah pemilik segala sesuatu, dan karena itu segala sesuatu harus dikembalikan kepada-Nya (ayat 5). Surat ini juga menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik keutamaan (ayat 29). Keutamaan bagi orang yang ditimpa kesulitan adalah kemudahan. Keutamaan bagi seseorang yang terjepit persoalan adalah jalan keluar. Karena keutamaan adalah milik Allah, maka kepada-Nya jugalah kita berharap diberi keutamaan. Keutamaan tersebut akan dibagi-bagikan kepada siapa yang Dia kehendaki (ayat 29).
Ketiga tentang kunci menghadapi persoalan. Allah mengingatkan bahwa dunia ini adalah permainan saja (ayat 20). Karena sekedar permainan, maka tidak usah terlalu “serius” menghadapi dunia. Segala sesuatu pasti ada akhirnya. Di dunia ini, tidak ada kepedihan yang kekal, pun tidak ada kebahagiaan yang terus menerus. Selain itu, Allah juga menegaskan bahwa segala hal yang terjadi di muka bumi ini sudah tercatat sebelumnya di dalam kitab-Nya (ayat 22). Karena itu, manusia tidak boleh terlalu bersedih jika ditimpa kesusahan, pun tidak boleh terlalu berbangga diri jika sedang mendapatkan karunia dan kenikmatan (ayat 23).
Kita juga disarankan untuk banyak-banyak mengingat Allah (ayat 16). Surat ini mengingatkan bahwa Allah adalah awal dan akhir dari segala sesuatu (ayat 3). Dia selalu bersama kita di manapun kita berada (ayat 4). Kita diingatkan untuk segera memohon ampun atas kekhilafan yang telah kita perbuat (ayat 21). Ampunan Allah ini akan mengantarkan kita kepada surga-Nya. Surga yang sebenarnya akan diberikan kelak di akhirat. Sedangkan surga yang sekarang akan datang dalam wujud kebahagiaan dan keselamatan di dunia.
Yang menarik, di surat ini Allah berulang-ulang menegaskan pentingnya infaq dan sedekah (ayat 7, 10, 11, 18, 24). Dalam konteks perjuangan hidup, penegasan ini mengisyaratkan bahwa infaq dan sedekah dapat membukakan jalan bagi kesulitan kita. Ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hudzaifah. Dalam hadits tersebut, Nabi bersabda bahwa kunci menghadapi persoalan ada tiga: salat, puasa, dan sedekah. Barangsiapa yang melaksanakan ketiganya, insyaallah kesulitan-kesulitannya akan dimudahkan oleh Allah SWT.
Kesimpulannya, Surat “Besi” ini sarat dengan pesan-pesan keimanan, kemahakuasaan Allah, serta petunjuk bagi umat manusia. Kemampuan kita dalam menghayati dan mengamalkan isi kandungan surat ini bisa mengantarkan kita kepada kualitas “besi”. Yakni, kualitas mukmin yang kuat, kokoh, dan tabah dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Semoga Allah SWT senantiasa berkenan membagikan kualitas-kualitas besi tersebut kepada kita. Untuk hari ini, esok, hingga akhir hayat nanti. Allahumma ihdina al-sirat al-mustaqim. Sirat al-ladzina an'amta 'alayhim, ghayr al-maghdubi 'alayhim wala al-dhallin. Amien. (DM).
Kalau kita perhatikan ayat demi ayat, surat ini sebenarnya memberikan resep tentang bagaimana menjadi “besi” dalam kehidupan. Kemampuan kita dalam menghayati dan mengamalkan resep “besi” ini dapat memberikan kekuatan tersendiri untuk menghadapi kerasnya hidup. Resep “besi” tersebut terlihat dalam tiga pesan utama yang terkandung di dalamnya.
Pertama tentang iman kepada Allah. Pesan iman ini tersebar di berbagai ayat, baik di bagian awal maupun di bagian akhir surat. Iman diperintahkan sebagai salah satu konsekuensi logis dari perjanjian yang telah dibuat antara Allah dengan kita sejak sebelum ruh ditiupkan ke jasad kita (QS. Al-Hadid: 8. Lihat pula QS. Al-A’raf: 172). Surat ini menegaskan bahwa orang yang beriman akan mendapatkan cahaya dan jalan terang (ayat 19 & 28). Cahaya dan jalan terang ini sangat diperlukan ketika kita menghadapi kegelapan atau kesulitan hidup. Dalam situasi sulit, hati dan pikiran kadang terasa sempit. Situasi bisa gelap, lantaran tak tahu bagaimana mengatasinya. Iman kepada Allah, Sang Maha Penolong, akan mengantarkan kita kepada cahaya. Cahaya tersebut akan mendatangkan rasa tenteram, aman, dan melahirkan optimisme akan hadirnya jalan keluar atas sebuah persoalan.
Kedua tentang kemahakuasaan Allah. Surat Al-Hadid mengajarkan bahwa Allah Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan (ayat 2 & 17). Dia yang menghadirkan kesulitan, Dia pula sumber jalan keluar. Sangat mudah bagi Allah untuk “menerangkan” atau “menggelapkan” kehidupan seseorang (ayat 9). Allah menegaskan bahwa diri-Nya adalah pemilik segala sesuatu, dan karena itu segala sesuatu harus dikembalikan kepada-Nya (ayat 5). Surat ini juga menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik keutamaan (ayat 29). Keutamaan bagi orang yang ditimpa kesulitan adalah kemudahan. Keutamaan bagi seseorang yang terjepit persoalan adalah jalan keluar. Karena keutamaan adalah milik Allah, maka kepada-Nya jugalah kita berharap diberi keutamaan. Keutamaan tersebut akan dibagi-bagikan kepada siapa yang Dia kehendaki (ayat 29).
Ketiga tentang kunci menghadapi persoalan. Allah mengingatkan bahwa dunia ini adalah permainan saja (ayat 20). Karena sekedar permainan, maka tidak usah terlalu “serius” menghadapi dunia. Segala sesuatu pasti ada akhirnya. Di dunia ini, tidak ada kepedihan yang kekal, pun tidak ada kebahagiaan yang terus menerus. Selain itu, Allah juga menegaskan bahwa segala hal yang terjadi di muka bumi ini sudah tercatat sebelumnya di dalam kitab-Nya (ayat 22). Karena itu, manusia tidak boleh terlalu bersedih jika ditimpa kesusahan, pun tidak boleh terlalu berbangga diri jika sedang mendapatkan karunia dan kenikmatan (ayat 23).
Kita juga disarankan untuk banyak-banyak mengingat Allah (ayat 16). Surat ini mengingatkan bahwa Allah adalah awal dan akhir dari segala sesuatu (ayat 3). Dia selalu bersama kita di manapun kita berada (ayat 4). Kita diingatkan untuk segera memohon ampun atas kekhilafan yang telah kita perbuat (ayat 21). Ampunan Allah ini akan mengantarkan kita kepada surga-Nya. Surga yang sebenarnya akan diberikan kelak di akhirat. Sedangkan surga yang sekarang akan datang dalam wujud kebahagiaan dan keselamatan di dunia.
Yang menarik, di surat ini Allah berulang-ulang menegaskan pentingnya infaq dan sedekah (ayat 7, 10, 11, 18, 24). Dalam konteks perjuangan hidup, penegasan ini mengisyaratkan bahwa infaq dan sedekah dapat membukakan jalan bagi kesulitan kita. Ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hudzaifah. Dalam hadits tersebut, Nabi bersabda bahwa kunci menghadapi persoalan ada tiga: salat, puasa, dan sedekah. Barangsiapa yang melaksanakan ketiganya, insyaallah kesulitan-kesulitannya akan dimudahkan oleh Allah SWT.
Kesimpulannya, Surat “Besi” ini sarat dengan pesan-pesan keimanan, kemahakuasaan Allah, serta petunjuk bagi umat manusia. Kemampuan kita dalam menghayati dan mengamalkan isi kandungan surat ini bisa mengantarkan kita kepada kualitas “besi”. Yakni, kualitas mukmin yang kuat, kokoh, dan tabah dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Semoga Allah SWT senantiasa berkenan membagikan kualitas-kualitas besi tersebut kepada kita. Untuk hari ini, esok, hingga akhir hayat nanti. Allahumma ihdina al-sirat al-mustaqim. Sirat al-ladzina an'amta 'alayhim, ghayr al-maghdubi 'alayhim wala al-dhallin. Amien. (DM).
Subscribe to:
Posts (Atom)