Monday, March 8, 2010

Keramaian Yang Tak Terdengar

Salah satu hobby baru saya ketika mulai kuliah di Amerika adalah “ngopi” di café-café. Kegiatan ringan ini kadang saya lakukan sendiri, kadang bersama dua “senior” saya: Phillips dan Nico. Dua pendekar CSIS ini berjasa besar dalam mengenalkan saya pada tempat-tempat “tahannuts” dan "tadabbur". Sekedar menjauhkan diri sejenak dari rutinitas kampus.

Ada banyak tempat yang asyik untuk ngopi di DeKalb. Tidak hanya untuk "ngopi", tapi juga untuk belajar. Mungkin karena kota ini termasuk kota pelajar. Sehingga banyak café yang tidak hanya menyediakan makanan dan minuman ringan, namun juga fasilitas-fasilitas yang nyaman untuk membaca, menulis, atau berdiskusi. Beberapa tempat juga menyediakan koneksi internet. Buku-buku, jika kebetulan café berada di dalam sebuah bookstore, juga bisa diambil dari rak-rak penjualan, dan dibawa “mojok” untuk kita baca sepuasnya. Jika tidak kita beli, buku-buku itu dapat kita kembalikan lagi ke tempat semula.

Nah, kali ini cerita tentang kejadian menarik yang saya alami ketika saya sedang "bertahannuts" di sebuah café. Bukan sesungguhnya café, tapi sebuah toko buku yang kebetulan menyediakan kopi dan cookies. Saya baru saja duduk ngobrol bersama Kang Phillips. Saat itu kami sedang berdiskusi tentang masa depan ilmu sosial di Indonesia. Lagaknya serius. Padahal sebenarnya cuma ngobrol ngalor ngidul. Ngrumpi soal “intelektual” selebritis di negeri kita.

Tiba-tiba datang sekelompok orang masuk ke dalam café. Jumlahnya ada sekitar 25-30 orang. Meskipun datang bergerombol, mereka tidak ribut. Suasana tetap tenang. Cuma sesekali terdengar meja dan kursi digeser, untuk memungkinkan mereka bisa berkumpul dalam satu tempat. Saya sendiri masih “sibuk” mengobrol, dan tidak begitu memperhatikan mereka.

Sampai akhirnya salah satu dari mereka, seorang perempuan paruh baya, datang mendekati kami. Ia tersenyum dan mengambil kartu petunjuk penggunaan internet yang ada di atas meja. Kemudian ia menunjuk ke laptopku. Seraya memperlihatkan kartu yang baru saja diambilnya, ia membuka mulut dan tampak berusaha mengatakan “How?”. Hei, orang ini berbicara dengan bahasa isyarat!

Aku pun menjelaskan caraku (using trial and error), dan menyarankannya meminta bantuan staff café saja agar lebih mudah. Setelah itu kupalingkan wajahku, memperhatikan orang-orang yang baru datang itu. Di luar dugaanku, orang-orang ini tampak sedang sibuk mengobrol sendiri-sendiri. Mereka mengobrol satu sama lain dengan menggunakan bahasa isyarat. Usia mereka tampak bervariasi. Ada yang tua, ada yang dewasa. Ada pula yang anak-anak. Bahkan dua orang tampak sedang menggendong bayi. Anak-anak pun kulihat tampak bergurau. Mereka bermain tebak-tebakan, juga dengan bahasa isyarat. Luar biasa "ramainya" orang-orang ini!

Belum habis kekagumanku, tiba-tiba salah satu orang di antara mereka bertepuk tangan. Ia meminta perhatian kawan-kawannya. Orang ini kemudian berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat. Ia seperti sedang memberikan sambutan. Selanjutnya, ia mempersilahkan seseorang untuk maju. Tampaknya orang ini "ketua" mereka. Ia kemudian "berpidato" dengan menggunakan bahasa isyarat dan gesture tubuhnya. Yang lain tampak serius mendengarkan. Suasana pun menjadi hening. Hingga pada suatu saat, di tengah-tengah "pidato", para audiens tertawa terbahak-bahak, memecah keheningan. Menandakan ada sesuatu yang lucu dalam "pidato" itu. Di saat lain, mereka bertepuk tangan. Layaknya orang merespon kalimat-kalimat penggugah dalam sebuah pidato. Sungguh luar biasa.

Ketika sambutan selesai, orang-orang ini pun kembali mengobrol satu sama lain. Mereka tampak "ramai" sekali. Keramaian yang tak terdengar. Tapi bisa dirasakan dari mimik, tangan, dan bahasa tubuh mereka. Saya benar-benar kagum dan terkesima dibuatnya. Subhanallah.

2 comments:

  1. Nice posting.....:), apa mereka bisu?????

    ReplyDelete
  2. Ya, hanya beberapa yang tidak (mungkin semacam mentornya).

    ReplyDelete