Saturday, March 26, 2011

In Memoriam Niam Muhtada (1979-2011)

Saya ingin menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas nama keluarga kepada semua sahabat dan rekan yang telah turut berduka cita atas kepergian adik saya, Niam Muhtada. Baik yang menyempatkan diri datang ke apartemen kami di DeKalb, maupun yang berkirim simpati melalui telepon, sms, email, dan facebook. Doa dan ungkapan belasungkawa tersebut sungguh menjadi penghibur dan kekuatan yang tak terkira bagi kami dan keluarga. Semoga Allah SWT berkenan membalas semua kebaikan sahabat dan rekan dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Amien.

Adik saya meninggal setelah mengalami kecelakaan tunggal, tidak jauh dari rumahnya. Ia jatuh dari sepeda motor saat berniat menghindari ayam yang lewat. Luka luarnya tidak seberapa, namun luka dalamnya memaksanya harus dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Dokter mengatakan, ada pendarahan di lambung serta patah pada tulang rusuknya. Setelah empat hari coba diselamatkan, adik saya akhirnya berpulang ke rahmatullah pada hari Kamis, 24 Maret 2011.

Seperti saya, Niam memilih profesi sebagai guru. Bedanya, sejak kecil saya memang bercita-cita jadi guru, sementara Niam tidak pernah berangan menjadi guru. Jalan hidupnyalah yang kemudian “memaksanya” memilih dan mencintai profesi itu. Sebelum diangkat sebagai guru di SMP Negeri 1 Kokap Kulonprogo (sejak 2006), ia pernah mengajar di berbagai sekolah. Ia tercatat pernah menjadi guru di SMK Muhammadiyah 1 Patuk (2001-2006), SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta (2005-2006), dan SMK Negeri 3 Wonosari (2006). Ia pernah pula menjadi pembimbing ekstrakurikuler komputer di SMK Muhammadiyah 1 Wonosari (2004-2006), serta Pembina pramuka di SD Budi Mulia 2 Sedayu Bantul (2004).

Tidak seperti saya, yang menjalani hampir semua pendidikan formal di jalur keagamaan (MTsN, MAN, dan IAIN), adik saya memilih jalur pendidikan umum. Selepas tamat dari SD Al-Khairiyah Banyuwangi di tahun 1991, ia melanjutkan pendidikannya di SMPN 1 Banyuwangi, STM Negeri Banyuwangi (Jurusan Elektro), dan akhirnya kuliah di IKIP Negeri Yogyakarta di jurusan Pendidikan Teknik Elektro pada tahun 1997. Kendati demikian, itu tidak membuatnya absen dari kegiatan-kegiatan keagaman. Niam aktif dalam kegiatan pengajian di lingkungannya, serta turut memberikan khutbah Jumat dan khutbah Ied di kampungnya.

Kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan juga aktif dilakukannya. Ia kerap terlibat dalam kepanitiaan RT, RW, dan desa, termasuk menjadi panitia dalam Pemilu 2009 lalu. Masyarakat mengenalnya sebagai pribadi yang supel dan pandai bergaul. Di kampungnya, ia tidak hanya dikenal dekat dengan “Bapak-bapak’, tapi juga akrab dan disegani kelompok pemudanya. Kemahiran dan pengalamannya bermain musik saya kira membuatnya mudah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat. Sejak SMP, ia memang pandai bermain musik. Ia, terutama, pintar bermain gitar. Dulu waktu kuliah di Jogja, dia pernah membentuk kelompok musik campursari dan beberapa kali diundang pentas kecil-kecilan.

Kini, laki-laki humoris yang “cepat kaki dan ringan tangan” itu telah pergi. Ia meninggalkan seorang isteri dan dua orang anak. Ia pergi meninggalkan berbagai kenangan indah bagi orang-orang yang mencintainya. Di bulan Maret ia dilahirkan, di bulan Maret pula ia dipanggil menghadap -Nya. Selamat jalan adikku. Tugasmu sudah selesai. Angin musim semi membawa doa-doa kami terbang bersamamu. Semoga engkau damai di alam sana. Amien...

DeKalb, 27 Maret 2011

2 comments:

  1. Bagaimana cara mendapatkan sponsor beasiswa, Pak?
    Apakah Anda mempunyai daftar sponsor tersebut? Mohon bantuannya

    ReplyDelete
  2. Semoga mas niam tenag disisi allah karena mas niam saat kecelakan tunggal ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Dan beliau juga orang yang baik insya allah ilmuilmu yang diberikan kepada murid- muridnya menjadi ladang pahala bagi beliau karena salah satu pahal yang akan mendapat pahala tidak terputus adalah ilmu yang bermanfaat

    ReplyDelete