Kakiku melangkah ringan menyusuri lorong-lorong Dusable Hall. Aku baru saja menyelesaikan ujian terakhir semester ini. Artinya, hari-hari menegangkan penuh bahan bacaan dan makalah yang “mengganggu” tidurku satu bulan terakhir ini telah sampai pada titik akhirnya. Setidaknya hingga awal tahun depan.
Tidak dapat kumungkiri, dari beragam jenjang sekolah yang pernah kulalui, aku merasa ini yang paling berat. Bukan hanya karena ini jenjang pendidikan formal tertinggi (PhD), tetapi juga karena kerasnya sistem pendidikan di sini. Jauh lebih keras dari apa yang sebelumnya pernah aku bayangkan.
Jujur saja, sebelum berangkat ke Amerika, banyak yang telah mengingatkanku akan kerasnya ambil S3 di USA. Tapi aku tidak pernah menganggap “peringatan” itu terlalu serius. Sebab dulu, waktu ikut Pre-Departure program di IALF Bali sebelum S2 di Australia, “peringatan” yang sama tentang kerasnya pendidikan Barat juga pernah kudapatkan. Faktanya, sekolah di Australia tidak “seburuk” apa yang selalu didengung-dengungkan para instruktur. Biasa saja. Tak beda jauh dengan kuliah S2 di IAIN.
Aku bahkan sangat menikmati kuliah di Flinders. Saking “enjoy”-nya, tak merasa ada beban sama sekali. Kalau toh ada beban, itu hanya muncul sesekali saja. Terutama saat-saat sedang mendekati due date pengumpulan makalah. Selain itu, banyak waktu kosong, banyak waktu santai.
Ini juga yang saya kira menjadi salah satu penyebab mengapa banyak mahasiswa Indonesia “nyambi” bekerja di Australia. Bukan karena beasiswanya sangat sedikit, tapi karena banyaknya waktu luang. Tidak heran muncul kelakar di kalangan mahasiswa: Status yang mestinya “full-time student and part-time worker”, dalam praktiknya justeru terbalik menjadi: “Full-time worker and part-time student”. Aku tidak tahu apakah ini fakta yang hanya terjadi di Adelaide. Apakah di negara-negara bagian lainnya juga demikian? Saya tidak terlalu yakin.
Di Amerika, kita tidak bisa demikian. Aku melihat baik jenjang S2 maupun S3 semuanya sama-sama keras. Jangan coba-coba tidak membaca materi perkuliahan. Sebab penampilanmu akan persis seperti kambing congek di tengah riuh rendahnya diskusi kelas. Bagi mahasiswa S2, nilai tidak hanya soal “kumpul” makalah. Partisipasi di kelas dan penguasaan terhadap materi juga sangat menentukan.
Bagi mahasiswa S3, lebih keras lagi. Sebelum membuat proposal disertasi, kita harus melalui “comprehensive exam”, yang kata Kang Manto di Boston bisa membikin mata sayu, bibir pecah-pecah, dan perut melilit. Sebelum bisa mengikuti comprehensive exam ini, kita pun harus berhasil melewati setidaknya dua tahun perkuliahan. Tentu dengan sistem yang sanggup memaksa kita tidak bisa tidur tenang. Terutama jika kita tidak bisa fokus dan berdisiplin. Kata Kang Phillips Vermonte, “No pain, no gain!”. Tak kerja keras, maka tak dapat. Ungkapan yang megingatkanku pada pepatah Arab: “Al-ujrah biqadri al-ta’ab”. Upahmu tergantung kerja kerasmu!
Di atas semua itu, aku bersyukur telah sampai di Amerika dan mengenyam “manisnya” berjibaku dengan buku dan kerasnya cuaca. Aku tiba-tiba teringat Elaine. Guruku ini sangat berjasa dalam mendorong dan memotivasiku untuk sekolah di Amerika. “Your calling card, Dani!”, katanya suatu waktu empat tahun yang lalu setelah membaca tesisku. Dia juga yang memberiku rekomendasi yang sangat berharga, hingga akhirnya aku mendapatkan Fulbright dan kuliah di Amerika.
Kini, setelah sampai di Amerika, aku ingin kembali berjumpa dengannya. Aku pernah mengatakan padanya, aku ingin berkunjung ke Norwegia, negara tempat asalnya. Kukatakan padanya, aku ingin melihat legenda matahari tengah malam. Saat di mana matahari tak tenggelam selama 24 jam, dan kita bisa “shalat malam” di “siang hari”. Tapi kini, aku tak hanya ingin ke Norwegia untuk melihat dan merasakan legenda itu. Lebih dari itu, aku ingin menemui Elaine dan mencium tangannya. Aku ingin berterima kasih atas bimbingan dan motivasi-motivasinya yang tak pernah henti. Sayang, aku tidak pernah bisa lagi mengontaknya, hingga kini…
Terima kasih, Elaine Carey Belanger. Aku ingin melihatmu tahu bahwa aku sudah di Amerika. Aku ingin engkau bisa mendengar salam takzimku. Terimalah cium tangan muridmu ini. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan-kebaikanmu. Amien…
Saturday, December 12, 2009
Friday, November 13, 2009
Real American
James, one of my good American friends, just showed me a link to a very nice song called "Real American". Just like "Down Under" (Men at Work) is unique to Australia, this song is unique to America. I love "Down Under" for so long, and I think I will love "Real American" from now on. Many thanks, James!
REAL AMERICAN
Rick Derringer
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
When it comes crashing down, and it hurts inside,
ya' gotta take a stand, it don't help to hide,
Well, you hurt my friends, and you hurt my pride,
I gotta be a man; I can't let it slide,
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
I feel strong about right and wrong,
And I don't take trouble for very long,
I got something deep inside of me, and courage is the thing that keeps us free,
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
Well you hurt my friends, and you hurt my pride,
I gotta be a man; I can't let it slide,
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
REAL AMERICAN
Rick Derringer
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
When it comes crashing down, and it hurts inside,
ya' gotta take a stand, it don't help to hide,
Well, you hurt my friends, and you hurt my pride,
I gotta be a man; I can't let it slide,
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
I feel strong about right and wrong,
And I don't take trouble for very long,
I got something deep inside of me, and courage is the thing that keeps us free,
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
Well you hurt my friends, and you hurt my pride,
I gotta be a man; I can't let it slide,
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
I am a real American, Fight for the rights of every man,
I am a real American, fight for what's right, fight for your life!
Saturday, October 31, 2009
Namanya Anis Khafsah
Namanya Anis Khafsah, kalau aku tidak salah ingat. Beliau mengajari kami [para siswa MAPK Jember angkatan ketujuh], sebuah lagu berbahasa Inggris yang hingga kini masih kuingat. Aku tidak tahu di mana beliau sekarang. Yang kuingat beliau berasal dari Pacitan, dan mungkin sekarang ada di sana.
Bu Anis memutar lagu ini di lab bahasa, tempat Wildan Hakim (kini kerja di Bawaslu Pusat) sering tertidur dan pernah terkunci di dalamnya. Setiap kali satu lirik diputar, setiap kali pula ia matikan kasetnya, dan kami disuruh menuliskan lirik itu. Begitu seterusnya hingga selesai. Beliau sedang melatih keterampilan listening kami.
Dulu aku tak tahu apa judul lagu itu. Mungkin beliau menjelaskannya di kelas, tapi aku tak ingat. Selama ini aku menyebutnya: "Why does the sun go on shining". Baru setelah di USA aku berkesempatan melacaknya, dan kini kutahu judulnya "The end of the world", by Skeeter Davis.
Semoga Allah SWT memberkati Guruku ini dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang tidak bertepi. Amien.
****
The End of the World
[Sylvia Dee/Arthur Kent]
Why does the sun go on shining?
Why does the sea rush to shore?
Don't they know it's the end of the world,
`cause you don't love me anymore?
Why do the birds go on singing?
Why do the stars glow above?
Don't they know it's the end of the world?
It ended when I lost your love.
I wake up in the morning and I wonder why ev'rything's the same as it was.
I can't understand, no I can't understand, how life goes on the way it does!
Why does my heart go on beating?
Why do these eyes of mine cry?
Don't they know it's the end of the world?
It ended when you said good-bye.
Link: The End of the World
Bu Anis memutar lagu ini di lab bahasa, tempat Wildan Hakim (kini kerja di Bawaslu Pusat) sering tertidur dan pernah terkunci di dalamnya. Setiap kali satu lirik diputar, setiap kali pula ia matikan kasetnya, dan kami disuruh menuliskan lirik itu. Begitu seterusnya hingga selesai. Beliau sedang melatih keterampilan listening kami.
Dulu aku tak tahu apa judul lagu itu. Mungkin beliau menjelaskannya di kelas, tapi aku tak ingat. Selama ini aku menyebutnya: "Why does the sun go on shining". Baru setelah di USA aku berkesempatan melacaknya, dan kini kutahu judulnya "The end of the world", by Skeeter Davis.
Semoga Allah SWT memberkati Guruku ini dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang tidak bertepi. Amien.
****
The End of the World
[Sylvia Dee/Arthur Kent]
Why does the sun go on shining?
Why does the sea rush to shore?
Don't they know it's the end of the world,
`cause you don't love me anymore?
Why do the birds go on singing?
Why do the stars glow above?
Don't they know it's the end of the world?
It ended when I lost your love.
I wake up in the morning and I wonder why ev'rything's the same as it was.
I can't understand, no I can't understand, how life goes on the way it does!
Why does my heart go on beating?
Why do these eyes of mine cry?
Don't they know it's the end of the world?
It ended when you said good-bye.
Link: The End of the World
Friday, October 23, 2009
Syifa Amin dan Peraih Nobel 2009
Syifa Amin adalah kawan saya. Dia juga seorang Fulbrighter, yang sedang menyelesaikan Program Doktor (S3) di Indiana University USA. Kami pernah tinggal bersama selama 3 tahun di Asrama MAPK (MAN I Jember). Di Amerika, ia dan keluarganya tinggal bersama seorang professor yang dunia kemudian mengenalnya sebagai salah satu penerima Nobel Ekonomi 2009: Elinor Ostrom. Bagi saya, ini sangat membanggakan sekaligus kesempatan sangat langka. Berikut catatannya yang dikirim untuk milis alumni MAPK
*****
Mudhoffar, Abdurrahman, Dani, dan temans sekalian,
Awalnya saya belum pernah mendengar nama Elinor Ostrom maupun Vincent Ostrom (suami Elinor). Sampai suatu saat di bulan Juni 2009 ada orang Filipina, temannya teman saya dan mantan murid Elinor Ostrom, memperkenalkan saya kepada Professor Elinor Ostrom. Katanya, Lin (begitu kami biasa memanggilnya tanpa embel-embel "Professor") membutuhkan orang yang mau tinggal di rumahnya. Rumahnya terletak di tengah-tengah 'hutan', jauh dari transportasi umum, dikelilingi pohon mapple, olive, dan macam-macam pohon yang tak kukenal namanya. Persisnya, saya ditawaran untuk tinggal di apartemen depan rumahnya yang memang disediakan untuk graduate student. Tujuannya agar ada orang yang bisa menjaga rumah dan suaminya (Vincent, a retired Professon, yang berusia 90) saat dia pergi. Lin, meski sudah berusia 76 tahun, seringkali bepergian ke luar negeri dan ke luar kota untuk ceramah, konferensi, menerima penghargaan, dan lain-lain.
Si orang Filipina yang merupakan dosen NUS Singapura itu bilang bahwa Lin dan Vincent adalah orang yang sangat baik dan mempunyai 'nama besar' di bidangnya. Mendengar penggambaran seperti ini saya awalnya ragu untuk mengiyakan tawarannya untuk bisa tinggal bersama Lin dan Vincent. Nyali sudah ciut duluan. Tapi setelah bertemu dengan orangnya langsung dan berkunjung ke rumahnya, bayangan saya tentang profesor yang punya nama besar ini berubah.
Tadinya saya kira yang namanya profesor senior itu studious, nggak bisa senyum, kerjaannya belajar dan kerja terus (terbayang John Nash di film " A Beatiful Mind"). Ah, ternyata pasangan profesor yang satu memang sangat baik dan rumahnya juga sederhana. Begitu saya dan keluarga datang ke rumahnya, mereka langsung menyambut kami dengan hangat dan antusias. Bukan sambutan yang basa-basi. Keramahan keduanya menghapuskan keraguan saya. Kehangatan yang mereka tunjukkan menghilangkan bayangan-bayangan saya tentang professor ala John Nash.
Akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk mau tinggal di apartemen depan rumah mereka itu. Gratis. Cuma tinggal bayar listrik saja. Dan Lin juga bilang bahwa rumahnya adalah rumah kami juga. Pokoknya kami tidak boleh memiliki rasa sungkan untuk keluar masuk rumah atau mengambil makanan di rumahnya. Saya dan keluarga sudah dianggap sebagai famili, persisnya anak-anak mereka sendiri (karena Lin dan Vincent tampaknya tidak mempunyai anak).
Hari-hari kami jalani dengan rutinitas yang kemudian jadi kebiasaan; ambil koran di pagi hari untuk Vincent, bersih-bersih halaman, menata bunga, menjaga perpustakaan Vincent agar tidak lembab, memotong ranting untuk persediaan musim dingin, dan sebagainya. Sampai suatu pagi, kira-kira jam 7.30am, saat saya memberikan koran untuk Vincent, saya lihat di ujung ruangan Lin sedang memegang gagang telpon dengan mata yang masih belum melek betul. Vincent membisikkan sesuatu kepada saya, "Lin, mendapatkan Nobel Prize in Economics 2009!" Saya kaget. Rasa kagum, bahagia, dan bangga bercampur-campur. Langsung saya lari ke apartemen, menyalakan komputer dan mendengar interview live-nya dengan wartawan, panitia, dan juri nobel di Stockholm.
Setelah wawancara selesai, saya ajak istri dan putri saya ke rumah Lin untuk mengucapkan selamat. Serentak kami mengucapkan, "Congratulation! " Tampak Lin baru saja menutup telponnya dan menghampiri kami dengan kegembiraan meluap tapi tampak ditahan agar tidak terlalu membuncah. Dia memeluk Melani, istriku, dan Ayesha, putriku, dan kemudian menunjukkan kepada kami ratusan email yang langsung memenuhi inbox-nya. Telpon juga tidak berhenti berdering. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa bunga. "Ternyata aku benar-benar tinggal bersama orang yang punya 'nama besar'," batinku. Aku baru menyadari akan hal ini karena Lin yang kutahu selama ini adalah Lin yang menjadi 'nenek' bagi putri saya di rumah. Lin yang menata bunga bersama kami. Lin yang mencabuti rumput halaman bersama kami. Bukan Lin seorang scholar yang pikirannya menginspirasi dan mempengaruhi banyak orang.
*****
Mudhoffar, Abdurrahman, Dani, dan temans sekalian,
Awalnya saya belum pernah mendengar nama Elinor Ostrom maupun Vincent Ostrom (suami Elinor). Sampai suatu saat di bulan Juni 2009 ada orang Filipina, temannya teman saya dan mantan murid Elinor Ostrom, memperkenalkan saya kepada Professor Elinor Ostrom. Katanya, Lin (begitu kami biasa memanggilnya tanpa embel-embel "Professor") membutuhkan orang yang mau tinggal di rumahnya. Rumahnya terletak di tengah-tengah 'hutan', jauh dari transportasi umum, dikelilingi pohon mapple, olive, dan macam-macam pohon yang tak kukenal namanya. Persisnya, saya ditawaran untuk tinggal di apartemen depan rumahnya yang memang disediakan untuk graduate student. Tujuannya agar ada orang yang bisa menjaga rumah dan suaminya (Vincent, a retired Professon, yang berusia 90) saat dia pergi. Lin, meski sudah berusia 76 tahun, seringkali bepergian ke luar negeri dan ke luar kota untuk ceramah, konferensi, menerima penghargaan, dan lain-lain.
Si orang Filipina yang merupakan dosen NUS Singapura itu bilang bahwa Lin dan Vincent adalah orang yang sangat baik dan mempunyai 'nama besar' di bidangnya. Mendengar penggambaran seperti ini saya awalnya ragu untuk mengiyakan tawarannya untuk bisa tinggal bersama Lin dan Vincent. Nyali sudah ciut duluan. Tapi setelah bertemu dengan orangnya langsung dan berkunjung ke rumahnya, bayangan saya tentang profesor yang punya nama besar ini berubah.
Tadinya saya kira yang namanya profesor senior itu studious, nggak bisa senyum, kerjaannya belajar dan kerja terus (terbayang John Nash di film " A Beatiful Mind"). Ah, ternyata pasangan profesor yang satu memang sangat baik dan rumahnya juga sederhana. Begitu saya dan keluarga datang ke rumahnya, mereka langsung menyambut kami dengan hangat dan antusias. Bukan sambutan yang basa-basi. Keramahan keduanya menghapuskan keraguan saya. Kehangatan yang mereka tunjukkan menghilangkan bayangan-bayangan saya tentang professor ala John Nash.
Akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk mau tinggal di apartemen depan rumah mereka itu. Gratis. Cuma tinggal bayar listrik saja. Dan Lin juga bilang bahwa rumahnya adalah rumah kami juga. Pokoknya kami tidak boleh memiliki rasa sungkan untuk keluar masuk rumah atau mengambil makanan di rumahnya. Saya dan keluarga sudah dianggap sebagai famili, persisnya anak-anak mereka sendiri (karena Lin dan Vincent tampaknya tidak mempunyai anak).
Hari-hari kami jalani dengan rutinitas yang kemudian jadi kebiasaan; ambil koran di pagi hari untuk Vincent, bersih-bersih halaman, menata bunga, menjaga perpustakaan Vincent agar tidak lembab, memotong ranting untuk persediaan musim dingin, dan sebagainya. Sampai suatu pagi, kira-kira jam 7.30am, saat saya memberikan koran untuk Vincent, saya lihat di ujung ruangan Lin sedang memegang gagang telpon dengan mata yang masih belum melek betul. Vincent membisikkan sesuatu kepada saya, "Lin, mendapatkan Nobel Prize in Economics 2009!" Saya kaget. Rasa kagum, bahagia, dan bangga bercampur-campur. Langsung saya lari ke apartemen, menyalakan komputer dan mendengar interview live-nya dengan wartawan, panitia, dan juri nobel di Stockholm.
Setelah wawancara selesai, saya ajak istri dan putri saya ke rumah Lin untuk mengucapkan selamat. Serentak kami mengucapkan, "Congratulation! " Tampak Lin baru saja menutup telponnya dan menghampiri kami dengan kegembiraan meluap tapi tampak ditahan agar tidak terlalu membuncah. Dia memeluk Melani, istriku, dan Ayesha, putriku, dan kemudian menunjukkan kepada kami ratusan email yang langsung memenuhi inbox-nya. Telpon juga tidak berhenti berdering. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa bunga. "Ternyata aku benar-benar tinggal bersama orang yang punya 'nama besar'," batinku. Aku baru menyadari akan hal ini karena Lin yang kutahu selama ini adalah Lin yang menjadi 'nenek' bagi putri saya di rumah. Lin yang menata bunga bersama kami. Lin yang mencabuti rumput halaman bersama kami. Bukan Lin seorang scholar yang pikirannya menginspirasi dan mempengaruhi banyak orang.
Wednesday, September 30, 2009
Kambing Congek di Kelasku
Aku sungguh-sungguh berpengalaman hari itu. Berpengalaman menjadi “kambing congek” di kelas!
Sore itu aku ada kelas “Research Design”. Ini mata kuliah wajib untuk mahasiswa PhD di jurusanku. Materinya tentang “measurement”. Sesuatu yang, ironisnya, pernah aku ajarkan kepada para mahasiswaku di Indonesia.
Sang professor ke sana kemari menjelaskan tentang “measurement” beserta beberapa contoh. Aku sama sekali tak bisa mengejarnya. Ibarat berlari mengejar bis kota, susah payah aku mengejarnya, sopir jalan terus. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Aku yang menggonggong, kafilah tersenyum saja. Beberapa kali sang professor bertanya kepada mahasiswa di kelas. Tapi tak ada satu pun yang dapat kupahami. Jangankan jawabannya, pertanyaannya pun aku tak mengerti. Memang dia tidak bertanya khusus padaku. Tapi malunya, seperti sedang berada di kelas seorang diri. Aku malu. Malu pada diri sendiri. Apalagi kulihat beberapa kawan tampak aktif mengemukakan pendapat-pendapatnya. Dan aku, ingin rasanya menekuk kepala dalam-dalam. Atau bersembunyi, jongkok di bawah kursi!
Aku tahu kesalahanku. Kesalahan pertama adalah ketidakmampuanku menangkap dengan jelas bahasa Inggris sang professor. Aku tahu pasti, dia bukan professor yang jelek. Sebaliknya, dia terkenal sebagai seorang ahli di bidang research design. Dari bahasa tubuhnya ketika menerangkan sesuatu, aku tahu dia dosen yang sangat piawai. Sama sekali tidak menunjukkan dia dosen yang membosankan. Indeed, dia dosen yang sangat berpengalaman. Kadang-kadang saat mengemukakan contoh, dia tertawa. Dan yang lainnya pun ikut tertawa. Sementara aku, menertawakan diriku sendiri! Tak tahu apa yang harus ditertawakan.
Bahasa Inggris guruku ini, di telingaku terdengar seperti orang “nggremeng”. Mungkin karena dia sudah senior (He’s 60s!). Atau mungkin juga karena dia banyak menggunakan bahasa-bahasa pasaran khas “Illinois”, yang belum sepenuhnya dapat kuikuti. Tidak heran ketika dia mulai menjelaskan sesuatu, mulanya aku paham dia berbicara tentang apa. Tapi satu dua menit kemudian, dia hilang, Tak tahu kemana dan sampai di mana. Mirip shalatku yang tidak khusyuk. Waktu niat dan takbir, mantap mau menghadap Tuhan! Giliran di tengah, hilang tidak tahu sampai di mana dan ke mana sajah... ;)
Namun sebenarnya, kesalahan terbesarku bukan pada kegagalanku menangkap secara utuh bahasa Inggris professor ini. Kesalahan terbesarku adalah karena aku tidak membaca sama sekali materi kuliah hari itu. Baik buku teks maupun contoh-contoh paper riset yang dijadikan kajian. Dan ini yang sesungguhnya membuatku seperti kambing congek!
Aku bukannya tak tahu resiko tidak membaca bahan-bahan kelas tersebut. Tetapi dua hari terakhir ini, aku “disibukkan” dengan paper pertama yang harus ku-submit, juga untuk kelas Research Design ini. Apakah tugas paper tersebut datang mendadak? Tentu tidak. Kurangnya disiplin dan kemalasanku menepati time schedule yang kubuat sendiri adalah pangkal dari “kedunguan” di kelas sore itu. Aku masih menjadi “the last-minute person”. Kalau belum mepet saja, belum selesai pekerjaan. Dan hasilnya bisa ditebak: pekerjaanku belum tentu bagus, dan kesiapanku mengikuti kelas nyaris “zero”!
Walhasil, selama di kelas, aku merasa sangat tidak nyaman. Wirid yang selalu kulantunkan, semoga waktu berjalan cepat dan kelas segera berakhir. Celakanya, di sini dosen tidak akan mengakhiri waktu sebelum jadwal yang telah ditentukan. Kelasku ini mulai jam 15.30 dan baru akan selesai jam 18.10. Gosh….!
Kalau pun pada akhirnya kelas berakhir, itu juga bukan akhir dari penderitaanku. Sebab, dua puluh menit setelah itu, aku harus masuk lagi ke kelas lain. Dengan jumlah mahasiswa yang lebih sedikit. Hanya sekitar 10 saja. Anda tahu apa agenda kelas hari itu? Seminar kelas, yang mewajibkan mahasiswa membaca terlebih dahulu sejumlah jurnal paper untuk kemudian didiskusikan bersama. Dan aku, lagi-lagi belum membacanya dengan tuntas. Ibaratnya, lolos dari mulut harimau, tapi masuk ke mulut buaya. Sempurna sudah “penderitaanmu” hari itu, Kambing Congek!
Dusable Hall, NIU
Rabu, 30 September 2009
Sore itu aku ada kelas “Research Design”. Ini mata kuliah wajib untuk mahasiswa PhD di jurusanku. Materinya tentang “measurement”. Sesuatu yang, ironisnya, pernah aku ajarkan kepada para mahasiswaku di Indonesia.
Sang professor ke sana kemari menjelaskan tentang “measurement” beserta beberapa contoh. Aku sama sekali tak bisa mengejarnya. Ibarat berlari mengejar bis kota, susah payah aku mengejarnya, sopir jalan terus. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Aku yang menggonggong, kafilah tersenyum saja. Beberapa kali sang professor bertanya kepada mahasiswa di kelas. Tapi tak ada satu pun yang dapat kupahami. Jangankan jawabannya, pertanyaannya pun aku tak mengerti. Memang dia tidak bertanya khusus padaku. Tapi malunya, seperti sedang berada di kelas seorang diri. Aku malu. Malu pada diri sendiri. Apalagi kulihat beberapa kawan tampak aktif mengemukakan pendapat-pendapatnya. Dan aku, ingin rasanya menekuk kepala dalam-dalam. Atau bersembunyi, jongkok di bawah kursi!
Aku tahu kesalahanku. Kesalahan pertama adalah ketidakmampuanku menangkap dengan jelas bahasa Inggris sang professor. Aku tahu pasti, dia bukan professor yang jelek. Sebaliknya, dia terkenal sebagai seorang ahli di bidang research design. Dari bahasa tubuhnya ketika menerangkan sesuatu, aku tahu dia dosen yang sangat piawai. Sama sekali tidak menunjukkan dia dosen yang membosankan. Indeed, dia dosen yang sangat berpengalaman. Kadang-kadang saat mengemukakan contoh, dia tertawa. Dan yang lainnya pun ikut tertawa. Sementara aku, menertawakan diriku sendiri! Tak tahu apa yang harus ditertawakan.
Bahasa Inggris guruku ini, di telingaku terdengar seperti orang “nggremeng”. Mungkin karena dia sudah senior (He’s 60s!). Atau mungkin juga karena dia banyak menggunakan bahasa-bahasa pasaran khas “Illinois”, yang belum sepenuhnya dapat kuikuti. Tidak heran ketika dia mulai menjelaskan sesuatu, mulanya aku paham dia berbicara tentang apa. Tapi satu dua menit kemudian, dia hilang, Tak tahu kemana dan sampai di mana. Mirip shalatku yang tidak khusyuk. Waktu niat dan takbir, mantap mau menghadap Tuhan! Giliran di tengah, hilang tidak tahu sampai di mana dan ke mana sajah... ;)
Namun sebenarnya, kesalahan terbesarku bukan pada kegagalanku menangkap secara utuh bahasa Inggris professor ini. Kesalahan terbesarku adalah karena aku tidak membaca sama sekali materi kuliah hari itu. Baik buku teks maupun contoh-contoh paper riset yang dijadikan kajian. Dan ini yang sesungguhnya membuatku seperti kambing congek!
Aku bukannya tak tahu resiko tidak membaca bahan-bahan kelas tersebut. Tetapi dua hari terakhir ini, aku “disibukkan” dengan paper pertama yang harus ku-submit, juga untuk kelas Research Design ini. Apakah tugas paper tersebut datang mendadak? Tentu tidak. Kurangnya disiplin dan kemalasanku menepati time schedule yang kubuat sendiri adalah pangkal dari “kedunguan” di kelas sore itu. Aku masih menjadi “the last-minute person”. Kalau belum mepet saja, belum selesai pekerjaan. Dan hasilnya bisa ditebak: pekerjaanku belum tentu bagus, dan kesiapanku mengikuti kelas nyaris “zero”!
Walhasil, selama di kelas, aku merasa sangat tidak nyaman. Wirid yang selalu kulantunkan, semoga waktu berjalan cepat dan kelas segera berakhir. Celakanya, di sini dosen tidak akan mengakhiri waktu sebelum jadwal yang telah ditentukan. Kelasku ini mulai jam 15.30 dan baru akan selesai jam 18.10. Gosh….!
Kalau pun pada akhirnya kelas berakhir, itu juga bukan akhir dari penderitaanku. Sebab, dua puluh menit setelah itu, aku harus masuk lagi ke kelas lain. Dengan jumlah mahasiswa yang lebih sedikit. Hanya sekitar 10 saja. Anda tahu apa agenda kelas hari itu? Seminar kelas, yang mewajibkan mahasiswa membaca terlebih dahulu sejumlah jurnal paper untuk kemudian didiskusikan bersama. Dan aku, lagi-lagi belum membacanya dengan tuntas. Ibaratnya, lolos dari mulut harimau, tapi masuk ke mulut buaya. Sempurna sudah “penderitaanmu” hari itu, Kambing Congek!
Dusable Hall, NIU
Rabu, 30 September 2009
Saturday, August 29, 2009
Kencan Ketiga dengan 'Barat'
DeKalb! Sudah dua minggu aku ada di “desa” ini. Di tempat ini aku akan menghabiskan hari-hari panjangku di Amerika, entah untuk berapa lama.
DeKalb adalah kencan ketigaku dengan Barat. Pertama dulu dengan Montreal, Canada. Tapi tidak lama: hanya satu bulan saja. Yang kedua dengan Adelaide, Australia. Lebih lama dari yang pertama: dua tahun. Yang ketiga dengan DeKalb, Amerika Serikat. Lebih lama dari yang kedua: mungkin empat atau lima tahun atau lebih (aku tidak tahu!!!).
Meskipun letak kota ini tak jauh dari Chicago, sekitar 1.5 jam perjalanan darat dari DeKalb, tapi ketika datang pertama kali di kota ini, aku seperti masuk ke komplek kuburan. Bukan tanpa alasan jika aku menyebutnya demikian. Ketika masuk kota ini, suasana sepi mencekam layaknya berada dalam setting drama seri Friday the 13th. Suasana mulai gelap, tampak sisa-sisa hujan. Tidak banyak mobil yang tampak lalu-lalang di jalanan. Hanya satu dua saja. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Adelaide, apalagi dengan Montreal yang metropolitan. Tadinya kukira karena hujan baru saja mengguyur, sehingga orang malas keluar rumah. Tapi ternyata tidak.
Aku segera tahu jawabannya dari Pak Ali Akrom, seorang kawan Indonesia yang telah berbaik hati menjemput di bandara. Konon menurutnya, tidak kurang dari separuh lebih penduduk kota ini adalah juga “penduduk” Northern Illinois University yang berada di kota ini. Baik yang tercatat sebagai mahasiswa, dosen, pegawai, dan lain-lain pekerjaan formal atau informal yang berhubungan dengan kegiatan kampus. Tak heran jika liburan musim panas datang, kota ini mendadak sepi layaknya kota tanpa denyut nadi.
Tapi syukurlah, “kesunyian” kota itu tidak lama. Tidak sampai satu minggu berada di sini, dan perkuliahan dimulai, mulai terlihat ada tanda-tanda kehidupan. Lalu lalang mahasiswa di sudut-sudut kota mulai kelihatan. Bahkan hingga malam, masih saja tampak lalu-lalang para mahasiswa di jalan. Ada yang berjalan cepat. Ada pula yang jalan santai bergerombol. Sesekali terdengar gelak tawa, bahkan teriakan-teriakan mahasiswa ABG yang tak kupaham apa maksudnya.
Benar kata Dono, seorang kawan Fulbrighter yang sekolah di Massachusetts: Hidup ‘sendiri’ di negeri asing ini akan jauh lebih mudah, jika kita punya kawan. Komunitas Indonesia di DeKalb tentu berada di urutan nomor satu di antara kawan-kawan yang sangat “helpful”! Aku harus mengatakan: sambutan hangat dan “generosity” dari keluarga Tunru Lambogo, keluarga Phillip Vermonte dan keluarga Ali Akrom sungguh tak ternilai dan “menghangatkan” hari-hariku di DeKalb.
Pihak lain yang kehadirannya juga sangat berarti bagi mahasiswa asing sepertiku adalah Masjid dan Gereja. Masjid adalah rumah keduaku. Setiap kali lelah di perpustakaan, atau ketika kesepian datang menyergap, segera saja aku langkahkan kaki ke Masjid. Di sini aku selalu saja menemukan kawan-kawan baru yang hangat yang bisa diajak ngobrol untuk mengusir rasa sepi. Ada Moussa dari Mali, Hammed dari Nigeria, Al dari Turki, Castro dari Palestina dan masih banyak lagi “brothers-brothers” Muslim yang sangat friendly. Kukira kedatanganku di USA yang berdekatan dengan Ramadhan adalah saat yang sangat tepat, mengingat setiap sore Masjid di DeKalb menyelenggarakan acara buka puasa bersama alias “ta’jilan”. Meskipun menu-menu makanannya tidak selamanya dapat ditolerir oleh “perut Jawa”-ku, tapi acara buka puasa ini membuat “khazanah” perkawananku dengan kenalan-kenalan baru semakin bertambah. Alhamdulillah.
Selain Masjid, gereja juga wahana sosial yang sangat baik untuk menemukan sahabat-sahabat baru. Setiap Jumat di gereja Lutheran ada kegiatan pertemuan “intercultural”, di mana mahasiswa-mahasiswa asing dapat bertemu dengan keluarga-keluarga Amerika di kota ini yang sangat hangat dan baik hati. Mereka membuat acara keakraban, permainan, dan beberapa suguhan yang menghangatkan suasana. Konon gereja-gereja se-DeKalb bergantian menjadi “penanggung jawab” acara sekaligus suguhan yang disajikan kepada hadirin yang datang.
Di antara keluarga Amerika itu ada yang sudah aku kenal sebelum kedatanganku di DeKalb. Ya, keluarga Brad dan Leslie telah berbaik hati menawariku penjemputan gratis dan bahkan rumahnya untuk tempat tinggal sementara. Sayang, aku tidak sempat menikmati tawaran baik itu karena sebuah keluarga Indonesia asal Lombok juga telah berbaik hati menawarkan jemputan dan memberiku tumpangan tempat tinggal. Keluarga ini jugalah yang “menyelamatkan” perutku untuk sementara dari makanan asing yang tak sesuai dengan lidah Indonesia. Terima kasih banyak Pak Ali dan Bu Lili!
DeKalb adalah kencan ketigaku dengan Barat. Pertama dulu dengan Montreal, Canada. Tapi tidak lama: hanya satu bulan saja. Yang kedua dengan Adelaide, Australia. Lebih lama dari yang pertama: dua tahun. Yang ketiga dengan DeKalb, Amerika Serikat. Lebih lama dari yang kedua: mungkin empat atau lima tahun atau lebih (aku tidak tahu!!!).
Meskipun letak kota ini tak jauh dari Chicago, sekitar 1.5 jam perjalanan darat dari DeKalb, tapi ketika datang pertama kali di kota ini, aku seperti masuk ke komplek kuburan. Bukan tanpa alasan jika aku menyebutnya demikian. Ketika masuk kota ini, suasana sepi mencekam layaknya berada dalam setting drama seri Friday the 13th. Suasana mulai gelap, tampak sisa-sisa hujan. Tidak banyak mobil yang tampak lalu-lalang di jalanan. Hanya satu dua saja. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Adelaide, apalagi dengan Montreal yang metropolitan. Tadinya kukira karena hujan baru saja mengguyur, sehingga orang malas keluar rumah. Tapi ternyata tidak.
Aku segera tahu jawabannya dari Pak Ali Akrom, seorang kawan Indonesia yang telah berbaik hati menjemput di bandara. Konon menurutnya, tidak kurang dari separuh lebih penduduk kota ini adalah juga “penduduk” Northern Illinois University yang berada di kota ini. Baik yang tercatat sebagai mahasiswa, dosen, pegawai, dan lain-lain pekerjaan formal atau informal yang berhubungan dengan kegiatan kampus. Tak heran jika liburan musim panas datang, kota ini mendadak sepi layaknya kota tanpa denyut nadi.
Tapi syukurlah, “kesunyian” kota itu tidak lama. Tidak sampai satu minggu berada di sini, dan perkuliahan dimulai, mulai terlihat ada tanda-tanda kehidupan. Lalu lalang mahasiswa di sudut-sudut kota mulai kelihatan. Bahkan hingga malam, masih saja tampak lalu-lalang para mahasiswa di jalan. Ada yang berjalan cepat. Ada pula yang jalan santai bergerombol. Sesekali terdengar gelak tawa, bahkan teriakan-teriakan mahasiswa ABG yang tak kupaham apa maksudnya.
Benar kata Dono, seorang kawan Fulbrighter yang sekolah di Massachusetts: Hidup ‘sendiri’ di negeri asing ini akan jauh lebih mudah, jika kita punya kawan. Komunitas Indonesia di DeKalb tentu berada di urutan nomor satu di antara kawan-kawan yang sangat “helpful”! Aku harus mengatakan: sambutan hangat dan “generosity” dari keluarga Tunru Lambogo, keluarga Phillip Vermonte dan keluarga Ali Akrom sungguh tak ternilai dan “menghangatkan” hari-hariku di DeKalb.
Pihak lain yang kehadirannya juga sangat berarti bagi mahasiswa asing sepertiku adalah Masjid dan Gereja. Masjid adalah rumah keduaku. Setiap kali lelah di perpustakaan, atau ketika kesepian datang menyergap, segera saja aku langkahkan kaki ke Masjid. Di sini aku selalu saja menemukan kawan-kawan baru yang hangat yang bisa diajak ngobrol untuk mengusir rasa sepi. Ada Moussa dari Mali, Hammed dari Nigeria, Al dari Turki, Castro dari Palestina dan masih banyak lagi “brothers-brothers” Muslim yang sangat friendly. Kukira kedatanganku di USA yang berdekatan dengan Ramadhan adalah saat yang sangat tepat, mengingat setiap sore Masjid di DeKalb menyelenggarakan acara buka puasa bersama alias “ta’jilan”. Meskipun menu-menu makanannya tidak selamanya dapat ditolerir oleh “perut Jawa”-ku, tapi acara buka puasa ini membuat “khazanah” perkawananku dengan kenalan-kenalan baru semakin bertambah. Alhamdulillah.
Selain Masjid, gereja juga wahana sosial yang sangat baik untuk menemukan sahabat-sahabat baru. Setiap Jumat di gereja Lutheran ada kegiatan pertemuan “intercultural”, di mana mahasiswa-mahasiswa asing dapat bertemu dengan keluarga-keluarga Amerika di kota ini yang sangat hangat dan baik hati. Mereka membuat acara keakraban, permainan, dan beberapa suguhan yang menghangatkan suasana. Konon gereja-gereja se-DeKalb bergantian menjadi “penanggung jawab” acara sekaligus suguhan yang disajikan kepada hadirin yang datang.
Di antara keluarga Amerika itu ada yang sudah aku kenal sebelum kedatanganku di DeKalb. Ya, keluarga Brad dan Leslie telah berbaik hati menawariku penjemputan gratis dan bahkan rumahnya untuk tempat tinggal sementara. Sayang, aku tidak sempat menikmati tawaran baik itu karena sebuah keluarga Indonesia asal Lombok juga telah berbaik hati menawarkan jemputan dan memberiku tumpangan tempat tinggal. Keluarga ini jugalah yang “menyelamatkan” perutku untuk sementara dari makanan asing yang tak sesuai dengan lidah Indonesia. Terima kasih banyak Pak Ali dan Bu Lili!
Subscribe to:
Posts (Atom)