DeKalb! Sudah dua minggu aku ada di “desa” ini. Di tempat ini aku akan menghabiskan hari-hari panjangku di Amerika, entah untuk berapa lama.
DeKalb adalah kencan ketigaku dengan Barat. Pertama dulu dengan Montreal, Canada. Tapi tidak lama: hanya satu bulan saja. Yang kedua dengan Adelaide, Australia. Lebih lama dari yang pertama: dua tahun. Yang ketiga dengan DeKalb, Amerika Serikat. Lebih lama dari yang kedua: mungkin empat atau lima tahun atau lebih (aku tidak tahu!!!).
Meskipun letak kota ini tak jauh dari Chicago, sekitar 1.5 jam perjalanan darat dari DeKalb, tapi ketika datang pertama kali di kota ini, aku seperti masuk ke komplek kuburan. Bukan tanpa alasan jika aku menyebutnya demikian. Ketika masuk kota ini, suasana sepi mencekam layaknya berada dalam setting drama seri Friday the 13th. Suasana mulai gelap, tampak sisa-sisa hujan. Tidak banyak mobil yang tampak lalu-lalang di jalanan. Hanya satu dua saja. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Adelaide, apalagi dengan Montreal yang metropolitan. Tadinya kukira karena hujan baru saja mengguyur, sehingga orang malas keluar rumah. Tapi ternyata tidak.
Aku segera tahu jawabannya dari Pak Ali Akrom, seorang kawan Indonesia yang telah berbaik hati menjemput di bandara. Konon menurutnya, tidak kurang dari separuh lebih penduduk kota ini adalah juga “penduduk” Northern Illinois University yang berada di kota ini. Baik yang tercatat sebagai mahasiswa, dosen, pegawai, dan lain-lain pekerjaan formal atau informal yang berhubungan dengan kegiatan kampus. Tak heran jika liburan musim panas datang, kota ini mendadak sepi layaknya kota tanpa denyut nadi.
Tapi syukurlah, “kesunyian” kota itu tidak lama. Tidak sampai satu minggu berada di sini, dan perkuliahan dimulai, mulai terlihat ada tanda-tanda kehidupan. Lalu lalang mahasiswa di sudut-sudut kota mulai kelihatan. Bahkan hingga malam, masih saja tampak lalu-lalang para mahasiswa di jalan. Ada yang berjalan cepat. Ada pula yang jalan santai bergerombol. Sesekali terdengar gelak tawa, bahkan teriakan-teriakan mahasiswa ABG yang tak kupaham apa maksudnya.
Benar kata Dono, seorang kawan Fulbrighter yang sekolah di Massachusetts: Hidup ‘sendiri’ di negeri asing ini akan jauh lebih mudah, jika kita punya kawan. Komunitas Indonesia di DeKalb tentu berada di urutan nomor satu di antara kawan-kawan yang sangat “helpful”! Aku harus mengatakan: sambutan hangat dan “generosity” dari keluarga Tunru Lambogo, keluarga Phillip Vermonte dan keluarga Ali Akrom sungguh tak ternilai dan “menghangatkan” hari-hariku di DeKalb.
Pihak lain yang kehadirannya juga sangat berarti bagi mahasiswa asing sepertiku adalah Masjid dan Gereja. Masjid adalah rumah keduaku. Setiap kali lelah di perpustakaan, atau ketika kesepian datang menyergap, segera saja aku langkahkan kaki ke Masjid. Di sini aku selalu saja menemukan kawan-kawan baru yang hangat yang bisa diajak ngobrol untuk mengusir rasa sepi. Ada Moussa dari Mali, Hammed dari Nigeria, Al dari Turki, Castro dari Palestina dan masih banyak lagi “brothers-brothers” Muslim yang sangat friendly. Kukira kedatanganku di USA yang berdekatan dengan Ramadhan adalah saat yang sangat tepat, mengingat setiap sore Masjid di DeKalb menyelenggarakan acara buka puasa bersama alias “ta’jilan”. Meskipun menu-menu makanannya tidak selamanya dapat ditolerir oleh “perut Jawa”-ku, tapi acara buka puasa ini membuat “khazanah” perkawananku dengan kenalan-kenalan baru semakin bertambah. Alhamdulillah.
Selain Masjid, gereja juga wahana sosial yang sangat baik untuk menemukan sahabat-sahabat baru. Setiap Jumat di gereja Lutheran ada kegiatan pertemuan “intercultural”, di mana mahasiswa-mahasiswa asing dapat bertemu dengan keluarga-keluarga Amerika di kota ini yang sangat hangat dan baik hati. Mereka membuat acara keakraban, permainan, dan beberapa suguhan yang menghangatkan suasana. Konon gereja-gereja se-DeKalb bergantian menjadi “penanggung jawab” acara sekaligus suguhan yang disajikan kepada hadirin yang datang.
Di antara keluarga Amerika itu ada yang sudah aku kenal sebelum kedatanganku di DeKalb. Ya, keluarga Brad dan Leslie telah berbaik hati menawariku penjemputan gratis dan bahkan rumahnya untuk tempat tinggal sementara. Sayang, aku tidak sempat menikmati tawaran baik itu karena sebuah keluarga Indonesia asal Lombok juga telah berbaik hati menawarkan jemputan dan memberiku tumpangan tempat tinggal. Keluarga ini jugalah yang “menyelamatkan” perutku untuk sementara dari makanan asing yang tak sesuai dengan lidah Indonesia. Terima kasih banyak Pak Ali dan Bu Lili!
No comments:
Post a Comment