Salah satu tahapan penting dalam proses studi S3 NIU telah saya lalui. Dua hari lalu saya menyelesaikan ujian kualifikasi (qualifying exam). Banyak kawan menganggap tahapan ini sebagai sesuatu yang “nothing to worry about”. “Not a big deal”, kata kawan saya yang asli Ohio. “Cuma ngobrol-ngobrol aja”, kata kawan yang asli Jogja. Tetapi saya tak mau ambil resiko. Saya persiapkan ujian ini dengan sebaik mungkin. Faktanya, ada juga mahasiswa yang terpaksa harus DO karena gagal melalui tahapan ini dengan baik.
Dibandingkan dengan ujian komprehensif (comprehensive exam), ujian kualifikasi memang lebih “ringan”. Ujian komprehensif mengharuskan mahasiswa menguasai semua materi kuliah yang telah diambil sejak ia memasuki program. Biasanya mahasiswa mengambil ujian ini setelah kuliah selama lima atau enam semester. Tergantung jumlah SKS yang diambilnya dalam satu semester. Sementara ujian kualifikasi “hanya” mengukur kesiapan mahasiswa mengikuti program doktor. Biasanya kita akan dicecar pertanyaan-pertanyaan seputar teori-teori dasar, rencana riset, konsep-konsep kunci, serta kontribusi penelitian bagi ilmu pengetahuan.
Bagi saya, ujian seperti ini mirip tes wawancara Fulbright. Bedanya, para penguji dalam wawancara Fulbright tidak selalu orang yang bidang keilmuannya sama dengan kita. Kadang-kadang ini menguntungkan, sebab kita punya "chance" untuk lebih mudah “mengatasi” para penguji. Tetapi bisa jadi blunder juga. Sebab, seringkali tidak gampang menjelaskan signifikansi sebuah riset kepada orang yang tidak familiar dengan bidang riset kita. Terutama jika kita berada dalam posisi “under pressure”.
Berbeda dengan wawancara Fulbright, para penguji dalam qualifying exam adalah tiga professor yang ahli di bidang riset saya. Maklum, mereka komite akademik yang ditunjuk untuk saya oleh departemen. Tapi menurut saya ini menguntungkan. Sebab, “chemistry” kita sama. Justru kita bisa mendapatkan masukan-masukan yang sangat berarti dan mempertajam fokus penelitian. Tentu, kita harus well-prepared dalam menjelaskan konsep-konsep dan teori-teori yang hendak dioperasionalkan. Jika tidak, kita bisa dianggap tidak siap dan tidak layak meneruskan studi.
Syukur Alhamdulillah, ujian berjalan sangat lancar. Satu setengah jam terasa sebentar saja. Memang, karena fokus kajian saya tentang organisasi zakat, beberapa kali saya harus memberi penjelasan agak rinci tentang konsep zakat dalam Islam. Untungnya, Dr. Hamayotsu, salah satu dari tiga professor penguji adalah seorang ahli politik syariah. Ia pernah mengkaji tentang zakat dan politik di Asia Tenggara. Tidak jarang dia membantu menjelaskan kepada penguji lain tentang implementasi zakat di Indonesia dan Malaysia. Penjelasan ini tentu mempermudah para penguji memberikan pandangan, kritik, dan masukan. Termasuk memberikan arahan tentang mata kuliah apa saja yang perlu diambil untuk menunjang rencana kajian saya.
Walhasil, ujian kualifikasi ini tidak hanya membuat studi saya lebih terarah. Namun juga membuat saya punya gambaran kapan kira-kira saya bisa menyelesaikan "ngaji" saya di Pesantren DeKalb. Saya sangat bersyukur. Ini membuat saya semakin yakin bahwa di setiap ujung lorong pasti ada cahaya. Saya pun tersenyum melangkah keluar gedung IASBO, tempat berlangsungnya ujian. Kaki saya berjalan mantap ke arah subway, merayakan “kemenangan”.
Friday, April 9, 2010
Monday, March 8, 2010
Keramaian Yang Tak Terdengar
Salah satu hobby baru saya ketika mulai kuliah di Amerika adalah “ngopi” di café-café. Kegiatan ringan ini kadang saya lakukan sendiri, kadang bersama dua “senior” saya: Phillips dan Nico. Dua pendekar CSIS ini berjasa besar dalam mengenalkan saya pada tempat-tempat “tahannuts” dan "tadabbur". Sekedar menjauhkan diri sejenak dari rutinitas kampus.
Ada banyak tempat yang asyik untuk ngopi di DeKalb. Tidak hanya untuk "ngopi", tapi juga untuk belajar. Mungkin karena kota ini termasuk kota pelajar. Sehingga banyak café yang tidak hanya menyediakan makanan dan minuman ringan, namun juga fasilitas-fasilitas yang nyaman untuk membaca, menulis, atau berdiskusi. Beberapa tempat juga menyediakan koneksi internet. Buku-buku, jika kebetulan café berada di dalam sebuah bookstore, juga bisa diambil dari rak-rak penjualan, dan dibawa “mojok” untuk kita baca sepuasnya. Jika tidak kita beli, buku-buku itu dapat kita kembalikan lagi ke tempat semula.
Nah, kali ini cerita tentang kejadian menarik yang saya alami ketika saya sedang "bertahannuts" di sebuah café. Bukan sesungguhnya café, tapi sebuah toko buku yang kebetulan menyediakan kopi dan cookies. Saya baru saja duduk ngobrol bersama Kang Phillips. Saat itu kami sedang berdiskusi tentang masa depan ilmu sosial di Indonesia. Lagaknya serius. Padahal sebenarnya cuma ngobrol ngalor ngidul. Ngrumpi soal “intelektual” selebritis di negeri kita.
Tiba-tiba datang sekelompok orang masuk ke dalam café. Jumlahnya ada sekitar 25-30 orang. Meskipun datang bergerombol, mereka tidak ribut. Suasana tetap tenang. Cuma sesekali terdengar meja dan kursi digeser, untuk memungkinkan mereka bisa berkumpul dalam satu tempat. Saya sendiri masih “sibuk” mengobrol, dan tidak begitu memperhatikan mereka.
Sampai akhirnya salah satu dari mereka, seorang perempuan paruh baya, datang mendekati kami. Ia tersenyum dan mengambil kartu petunjuk penggunaan internet yang ada di atas meja. Kemudian ia menunjuk ke laptopku. Seraya memperlihatkan kartu yang baru saja diambilnya, ia membuka mulut dan tampak berusaha mengatakan “How?”. Hei, orang ini berbicara dengan bahasa isyarat!
Aku pun menjelaskan caraku (using trial and error), dan menyarankannya meminta bantuan staff café saja agar lebih mudah. Setelah itu kupalingkan wajahku, memperhatikan orang-orang yang baru datang itu. Di luar dugaanku, orang-orang ini tampak sedang sibuk mengobrol sendiri-sendiri. Mereka mengobrol satu sama lain dengan menggunakan bahasa isyarat. Usia mereka tampak bervariasi. Ada yang tua, ada yang dewasa. Ada pula yang anak-anak. Bahkan dua orang tampak sedang menggendong bayi. Anak-anak pun kulihat tampak bergurau. Mereka bermain tebak-tebakan, juga dengan bahasa isyarat. Luar biasa "ramainya" orang-orang ini!
Belum habis kekagumanku, tiba-tiba salah satu orang di antara mereka bertepuk tangan. Ia meminta perhatian kawan-kawannya. Orang ini kemudian berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat. Ia seperti sedang memberikan sambutan. Selanjutnya, ia mempersilahkan seseorang untuk maju. Tampaknya orang ini "ketua" mereka. Ia kemudian "berpidato" dengan menggunakan bahasa isyarat dan gesture tubuhnya. Yang lain tampak serius mendengarkan. Suasana pun menjadi hening. Hingga pada suatu saat, di tengah-tengah "pidato", para audiens tertawa terbahak-bahak, memecah keheningan. Menandakan ada sesuatu yang lucu dalam "pidato" itu. Di saat lain, mereka bertepuk tangan. Layaknya orang merespon kalimat-kalimat penggugah dalam sebuah pidato. Sungguh luar biasa.
Ketika sambutan selesai, orang-orang ini pun kembali mengobrol satu sama lain. Mereka tampak "ramai" sekali. Keramaian yang tak terdengar. Tapi bisa dirasakan dari mimik, tangan, dan bahasa tubuh mereka. Saya benar-benar kagum dan terkesima dibuatnya. Subhanallah.
Ada banyak tempat yang asyik untuk ngopi di DeKalb. Tidak hanya untuk "ngopi", tapi juga untuk belajar. Mungkin karena kota ini termasuk kota pelajar. Sehingga banyak café yang tidak hanya menyediakan makanan dan minuman ringan, namun juga fasilitas-fasilitas yang nyaman untuk membaca, menulis, atau berdiskusi. Beberapa tempat juga menyediakan koneksi internet. Buku-buku, jika kebetulan café berada di dalam sebuah bookstore, juga bisa diambil dari rak-rak penjualan, dan dibawa “mojok” untuk kita baca sepuasnya. Jika tidak kita beli, buku-buku itu dapat kita kembalikan lagi ke tempat semula.
Nah, kali ini cerita tentang kejadian menarik yang saya alami ketika saya sedang "bertahannuts" di sebuah café. Bukan sesungguhnya café, tapi sebuah toko buku yang kebetulan menyediakan kopi dan cookies. Saya baru saja duduk ngobrol bersama Kang Phillips. Saat itu kami sedang berdiskusi tentang masa depan ilmu sosial di Indonesia. Lagaknya serius. Padahal sebenarnya cuma ngobrol ngalor ngidul. Ngrumpi soal “intelektual” selebritis di negeri kita.
Tiba-tiba datang sekelompok orang masuk ke dalam café. Jumlahnya ada sekitar 25-30 orang. Meskipun datang bergerombol, mereka tidak ribut. Suasana tetap tenang. Cuma sesekali terdengar meja dan kursi digeser, untuk memungkinkan mereka bisa berkumpul dalam satu tempat. Saya sendiri masih “sibuk” mengobrol, dan tidak begitu memperhatikan mereka.
Sampai akhirnya salah satu dari mereka, seorang perempuan paruh baya, datang mendekati kami. Ia tersenyum dan mengambil kartu petunjuk penggunaan internet yang ada di atas meja. Kemudian ia menunjuk ke laptopku. Seraya memperlihatkan kartu yang baru saja diambilnya, ia membuka mulut dan tampak berusaha mengatakan “How?”. Hei, orang ini berbicara dengan bahasa isyarat!
Aku pun menjelaskan caraku (using trial and error), dan menyarankannya meminta bantuan staff café saja agar lebih mudah. Setelah itu kupalingkan wajahku, memperhatikan orang-orang yang baru datang itu. Di luar dugaanku, orang-orang ini tampak sedang sibuk mengobrol sendiri-sendiri. Mereka mengobrol satu sama lain dengan menggunakan bahasa isyarat. Usia mereka tampak bervariasi. Ada yang tua, ada yang dewasa. Ada pula yang anak-anak. Bahkan dua orang tampak sedang menggendong bayi. Anak-anak pun kulihat tampak bergurau. Mereka bermain tebak-tebakan, juga dengan bahasa isyarat. Luar biasa "ramainya" orang-orang ini!
Belum habis kekagumanku, tiba-tiba salah satu orang di antara mereka bertepuk tangan. Ia meminta perhatian kawan-kawannya. Orang ini kemudian berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat. Ia seperti sedang memberikan sambutan. Selanjutnya, ia mempersilahkan seseorang untuk maju. Tampaknya orang ini "ketua" mereka. Ia kemudian "berpidato" dengan menggunakan bahasa isyarat dan gesture tubuhnya. Yang lain tampak serius mendengarkan. Suasana pun menjadi hening. Hingga pada suatu saat, di tengah-tengah "pidato", para audiens tertawa terbahak-bahak, memecah keheningan. Menandakan ada sesuatu yang lucu dalam "pidato" itu. Di saat lain, mereka bertepuk tangan. Layaknya orang merespon kalimat-kalimat penggugah dalam sebuah pidato. Sungguh luar biasa.
Ketika sambutan selesai, orang-orang ini pun kembali mengobrol satu sama lain. Mereka tampak "ramai" sekali. Keramaian yang tak terdengar. Tapi bisa dirasakan dari mimik, tangan, dan bahasa tubuh mereka. Saya benar-benar kagum dan terkesima dibuatnya. Subhanallah.
Sunday, February 7, 2010
Catatan Philips Vermonte
Catatan ringan ini dibuat oleh Philips Vermonte, seorang kawan yang sedang menyelesaikan disertasinya di departemen Ilmu Politik, Northern Illinois University, USA. Catatan ini diambil dari notes yang dia buat di facebook untuk para pembaca. Semoga bermanfaat, terutama bagi yang berminat belajar di Amerika Serikat. Selamat menikmati!
*****
Sedikit Cerita Tentang Kuliah Pasca Sarjana di Amerika
Oleh Philips Vermonte
Beberapa teman pernah bertanya-tanya tentang serba serbi kuliah di Amerika. Jadi saya bikin saja notes ringan ini. Sebelum mulai notes ini, ada baiknya saya ceritakan sedikit background bagaimana program pasca sarjana ilmu sosial diselenggarakan di Amerika, minimal di tempat saya kuliah. Ia agak berbeda dari apa yang dijalankan dalam British system (misalnya di Inggris dan Australia). Di Australia misalnya (saya dulu menempuh program master di Australia dengan keberuntungan mendapat beasiswa), secara umum di kampus-kampus Australia seorang mahasiswa PhD langsung 'diceburkan' ke dalam penulisan disertasi. Begitu mulai program, bisa langsung mulai menulis proposal disertasi, tentunya dengan bimbingan seorang profesor.
Tidak demikian dengan umumnya kampus Amerika. Seorang mahasiswa PhD harus mengikuti kuliah (coursework) selama kurang lebih 2 atau 3 tahun, belajar teori dan metodologi. Setelah selesai coursework, seorang mahasiswa PhD harus lulus ujian komprehensif tertulis dan lisan yang mengujikan mata kuliah-mata kuliah yang telah diselesaikan selama 2 atau 3 tahun itu.
Ujian komprehensif ini adalah sumber stress yang tiada taranya...:-). Sebulan sebelum ujian komprehensif, dijamin makan nggak enak dan tidur pun tak nyenyak. Bergantung tradisi di kampus (jurusan) masing-masing, biasanya ujian komprehensif berlangsung dua hari, masing-masing berlangsung dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Di hari pertama, diberi 6 soal untuk dijawab selama tujuh jam tersebut, tutup buku alias closed book. Demikian juga hari kedua. Biasanya ada selisih waktu antara ujian hari pertama dan kedua, di tempat saya belajar ini kedua ujian itu dipisahkan satu minggu.
Setelah lulus ujian komprehensif, baru kita diperkenankan membuat proposal dan menulis disertasi. Kalau gagal dalam ujian komprehensif, seorang mahasiswa PhD diberi kesempat mengulang hanya satu kali di semester berikut. Kalau masih gagal, ditendang keluar dari program.
Kalau Anda adalah seorang yang rajin, sangat independen dan disiplin dalam belajar, British system adalah alternatif yang paling baik karena memberi kebebasan sangat luas. Untuk orang pemalas seperti saya, sistem Amerika memaksa saya untuk membaca dan kuliah.
Background kedua adalah bagaimana mahasiswa PhD Amerika dibiayai. Hampir tidak ada mahasiswa pasca sarjana (program master atau doktoral) di Amerika yang kuliah dengan biaya sendiri. Umumnya beasiswa datang dari kampus masing-masing (disebut dengan graduate assistantship). Jadi, mahasiswa harus mengikuti seleksi ketat untuk bisa diterima program pasca sarjana, karena kampus akan memilih-milih siapa yang akan mereka beri beasiswa.
Dengan graduate assistantship, si mahasiswa dibebaskan dari tuition fee (namun tetap membayar student fee yang akan saya ceritakan dibawah). Dengan assistantship mereka mendapat stipend bulanan untuk biaya hidup. Kompensasinya, para mahasiswa ini wajib bekerja di kampus, seminggu 20 jam, disamping beban kuliah 9 credit hours tiap semester. Dengan stipend secukupnya itu (cukup buat bayar sewa apartemen, tagihan rutin listrik, air, belanja mengisi kulkas yang selalu cepat kosong), dan beban pekerjaan kampus yang lumayan, kehidupan mahasiswa pasca sarjana di Amerika boleh dibilang, meminjam Bung Karno, vivere pericoloso alias the years of living dangerously.
Coursework saya sebagai mahasiswa program doktoral sudah selesai. Juga sudah lulus ujian komprehensif tiga semester lalu. Sekarang 'tinggal' mengurus disertasi, yang entah kapan akan selesai...:-)
Saya beruntung mendapat beasiswa Fulbright dari pemerintah Amerika. Beasiswa Fulbright disediakan untuk tiga tahun. Setelah tiga tahun, diambil alih oleh kampus. Dengan background seperti tadi, adalah hal amat sulit untuk bisa menyelesaikan program doktoral di Amerika dalam waktu tiga tahun.
Dengan beasiswa Fulbright, untuk tiga tahun pertama saya beruntung tidak kena kewajiban bekerja di kampus selama 20 jam per minggu itu. Ada rumus sederhana studi pasca sarjana di sini. Bahwa seorang mahasiswa doktoral minimal menyediakan waktu membaca/belajar di luar kelas sebanyak 2 kali jumlah credit mata kuliah yang diambil. Kalau satu mata kuliah bernilai 3 credit hours, maka untuk mata kuliah itu bersiaplah belajar sendiri di luar jam kuliah sebanyak 6 jam per minggu. Kalau mengambil tiga mata kuliah (alias 9 credit hours), maka waktu belajar yang harus disediakan untuk membaca semua materi adalah 18 jam per minggu.
Intinya, dengan beasiswa itu selama tiga tahun pertama, saya bisa 'hanya' kuliah tanpa bekerja, dan mempersiapkan ujian komprehensif tanpa gangguan. Kalau saya harus bersiap ujian kompre sambil bekerja 20 jam di kampus itu, mungkin saya tidak akan lulus.
Bekerja 20 jam itu bisa lebih panjang. Karena, kita harus memeriksa pe-er mahasiswa S1, terkadang ikut membuat soal, dan memeriksa ujian mereka. Tidak bisa dilakukan asal-asalan, karena mahasiswa S1 berhak komplain dan melihat hasil pemeriksaan yang kita lakukan.
Setelah beasiswa Fulbright habis tiga tahun, saya mendapat graduate assistantship dari sebuah lab studi kuantitatif di kampus yang dibiayai bersama oleh Departemen Sosiologi dan Departemen Ilmu Politik tempat saya belajar. Lab ini adalah hub kedua departemen yang dipakai oleh para profesor yang mengajar mata kuliah-mata kuliah dengan komponen kuantitatif. Lab ini mereka pakai untuk lab session mereka (biasanya untuk tiap mata kuliah kuantitatif ada dua kali pertemuan setiap minggu, ceramah di kelas dan lab session dimana mereka bergumul dengan software statistik seperti SPSS, arcGIS, stata, ataupun software penelitian kualitatif seperti HyperResearch).
Konsekuensinya, mahasiswa pasca sarjana yang bekerja di lab itu harus berusaha menguasai mata kuliah2 dari berbagai profesor itu. Minimal kami harus tahu pe-er mereka, karena mahasiswa akan mengerjakan pe er di lab yang, kalau tidak di booking untuk kuliah, buka setiap hari dari pagi hingga malam. Kami harus menjadi tutor mereka saat mereka mengerjakan tugas atau mempersiapkan ujian. Boleh dibilang, 20 jam itu hanya on paper. Karena, nyatanya mungkin bisa lebih karena mahasiswa bisa bertanya kapan saja.
Saya juga menjadi asisten untuk seorang profesor sosiologi pengajar metodologi kuantitatif (yang adalah direktur lab tempat saya bekerja), baik untuk mahasiswa S1 dan pasca sarjana. Dia mengajar dua mata kuliah S1, dan satu mata kuliah pasca sarjana (awal semester ini dia dengan santainya bilang: i think it's good if you take my stat course this semester. jadilah semester ini saya ambil kuliah dia walaupun coursework saya sudah selesai. Toh, saya rasa akan berguna di kemudian hari, minimal bisa 'ngobrol' dengan teman-teman sesama peneliti di departemen ekonomi CSIS yang sudah lama bergelut dengan statistik...:-) Lagipula, profesor ini anggota komite disertasi saya, jadi hampir tidak mungkin mengelak 'ajakan' dia itu..haha).
Dua mata kuliah S1 yang diasuh olehnya adalah kuliah Critical Thinking untuk lower level (mahasiswa tahun kedua), dan kuliah upper level statistik sosial lanjutan (untuk mahasiswa tahun ketiga/empat). Saya jadi asistennya di dua kuliah ini.
Kuliah ini diikuti mahasiswa dari jurusan-jurusan lain, ada dari sosiologi, psikologi, politik, health science, nursing, ekonomi, komunikasi, engineering, dan lain-lain. Entah kapan di Indonesia bisa berlaku hal seperti ini, dimana mahasiswa bisa belajar bebas lintas jurusan, yang saya rasa bagus sekali. Untuk mahasiswa yang bersangkutan, mereka belajar multiperspektif sejak awal. Kelas menjadi lebih kaya lewat dinamika partisipasi dalam kelas lintas jurusan.
Karena menjadi asistennya, saya harus ikut masuk dalam kelas nya, seminggu dua kali. Juga lab session. Kalau saya sekarang sedikit tahu soal statistik, mungkin bukan karena saya mengerti. Tapi karena hapal setelah mendengar kuliah itu berulang-ulang tiga semester terakhir.....:-)
Satu hal yang membuat saya bersemangat adalah melihat mahasiswa-mahasiswa ini. Mahasiswa-mahasiswa ini devoting their time untuk bikin pe-er. Lab kami boleh dibilang selalu penuh dengan mahasiswa yang mengerjakan pe-er, dari pagi hingga malam. Mereka memanfaatkan betul para tutor yang bertugas bergilir di lab. Saya melihat, bahwa mereka ingin betul 'menaklukan' materi-materi yang tidak mereka pahami. Mengerjakan pe er dengan sungguh-sungguh. Mengerjakan pe er tidak harus satu hari selesai. Kadang mereka cicil, hari ini selesai 3 soal, besok atau lusa lanjutkan tiga lagi.
Mahasiswa S1 di Amerika umumnya bekerja part time untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, karena tidak lagi dibiayai orang tua masing-masing. Maka, beruntunglah mahasiswa S1 di Indonesia yang umumnya masih dibiayai orangtua, waktu tidak tersita untuk bekerja demi survival, semestinya bisa belajar jauh lebih maksimal karena waktu terbentang luas.
Karena itu, mahasiswa-mahasiswa S1di Amerika ini mengatur jadwal setiap hari dengan ketat dan disiplin. Mereka memilah antara waktu kuliah, belajar sendiri bahan kuliah di luar kelas, bikin tugas, dan bekerja. Juga pacaran. Saya pernah tidak sengaja mendengar seorang mahasiswa sedang bikin tugas di lab, dapat telpon dari pacarnya. Saya dengar dia memaki "Honey, shut up! I am trying to do my assignment here. I'll call you when I am done." hahaha. Karena harus mengatur waktu yang sempit ini, mahasiswa ini pastinya akan critical dan marah kepada dosen-dosen yang tidak serius mengajar dan tidak memberi nilai tambah.
Mereka juga paham betul soal student fee yang mereka bayar setiap tahun seperti saya sebut diawal tadi. Student fee yang harus dibayar jumlahnya bikin ngilu, per semester sekitar 1200-an dollar.
Student fee ini diperuntukan untuk kegiatan-kegiatan mahasiswa, asuransi kesehatan,fasilitas teknologi kampus (email dan lab-lab komputer general yang tersebar di seluruh kampus), bayar kertas untuk printing bahan-bahan kuliah, juga untuk membiayai lab-lab khusus seperti lab studi kuantitatif tempat saya bekerja (misalnya membayar lisensi semua software yang disediakan, gak pakai software bajakan..hehe), biaya praktikum, dan lain-lain.
Tidak mungkin ada penyunatan dana student fee ini oleh departemen masing-masing, karena semua transparan. Mahasiswa mengerti betul hak-nya setelah mereka memenuhi kewajibannya (membayar student fee). Kalau dalam breakdown student fee tertulis untuk lab dan praktikum, maka uang itu sepenuhnya dialokasikan untuk lab dan praktikum mahasiswa.
Begitulah seharusnya kampus yang memahami betul tujuan pedagogis yang student-oriented. Jangan lupa, ada koran kampus yang dikelola mahasiswa yang galak. Sedikit saja ada yang mencurigakan soal dana-dana kemahasiswaan, tanpa ampun mereka sikat dalam editorial. Di tempat saya kuliah, rektorat memperlakukan koran mahasiswa dengan serius (bulan lalu, koran mahasiswa menurunkan editorial soal performance kepala polisi kampus, rektorat merasa harus membuat komite khusus untuk menyelidiki hal ini melibatkan jaksa dari negara bagian Illinois dan untuk sementara sang kepala polisi di bebas tugaskan sampai komite itu menyampaikan laporannya).
Selama bekerja di lab ini, saya bisa melihat perkembangan pemahaman mahasiswa-mahasiswa ini. Di awal semester, biasanya mereka seperti orang bingung 'dihajar' materi yang mungkin buat mereka seperti berbahasa planet Klingon. Namun, seiring kuliah berjalan, saya bisa melihat mereka semakin mengerti. Saya bisa lihat itu karena saya memeriksa pe er dan ujian mereka. Dan juga dari interaksi tutorial di lab ketika mereka mengerjakan tugas atau bertanya.
Saya dan profesor yang saya bantu itu sering terlibat percakapan tentang mahasiswa-mahasiswanya saat membahas pe er yang mereka kerjakan. Untuk mata kuliah Critical Thinking, biasanya kami bagi dua pe er yang kami periksa (si profesor tentu juga ikut periksa tiap minggu). Sebelum kami kembalikan kepada mahasiswa, biasanya kami saling bertukar. Saya melihat tumpukan pekerjaan mahasiswa yang dia periksa, dan dia melihat tumpukan pekerjaan mahasiswa yang saya periksa. Dengan demikian, konsistensi terjaga.
Seringkali saya memberi pendapat atas nilai yang dia berikan yang menurut saya terlalu rendah ataupun terlalu tinggi untuk setiap pertanyaan. Demikian juga dengan profesor itu, dia memeriksa hasil grading saya. Kami bisa mendiskusikan ulang grading instruction yang telah dia buat.
Sambil memeriksa, kami sering mendiskusikan intellectual hurdles yang kelihatannya dialami mahasiswa dalam memahami satu materi. Di bagian mana mereka tidak mengerti (kelihatan dari jawaban pe er-nya) dan bagaimana sebaiknya pengajaran dilakukan untuk membantu para mahasiswa ini mengatasi intellectual hurdles ini sehingga tujuan pedagogis belajar terpenuhi. Ini virtue lain pendidikan pasca sarjana di Amerika, yaitu bahwa profesor dan mahasiswa pasca sarjana yang menjadi asistennya menjadi seperti kolega, membangun hubungan kolegial.
Maka saya teringat Paulo Freire yang menulis buku Pedagogy of the Opressed, yang dulu sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Pendidikan Kaum Tertindas. Buku 'kiri' ini menimbang pentingnya pendidikan untuk pembebasan, bahwa guru yang baik sejatinya harus menjalankan peran sebagai murid. Anehnya, saya melihat itu di Amerika, entah di Amerika Latin tempat Freire menumpahkan rasa gundahnya terhadap proses pendidikan di sana.
*****
Sedikit Cerita Tentang Kuliah Pasca Sarjana di Amerika
Oleh Philips Vermonte
Beberapa teman pernah bertanya-tanya tentang serba serbi kuliah di Amerika. Jadi saya bikin saja notes ringan ini. Sebelum mulai notes ini, ada baiknya saya ceritakan sedikit background bagaimana program pasca sarjana ilmu sosial diselenggarakan di Amerika, minimal di tempat saya kuliah. Ia agak berbeda dari apa yang dijalankan dalam British system (misalnya di Inggris dan Australia). Di Australia misalnya (saya dulu menempuh program master di Australia dengan keberuntungan mendapat beasiswa), secara umum di kampus-kampus Australia seorang mahasiswa PhD langsung 'diceburkan' ke dalam penulisan disertasi. Begitu mulai program, bisa langsung mulai menulis proposal disertasi, tentunya dengan bimbingan seorang profesor.
Tidak demikian dengan umumnya kampus Amerika. Seorang mahasiswa PhD harus mengikuti kuliah (coursework) selama kurang lebih 2 atau 3 tahun, belajar teori dan metodologi. Setelah selesai coursework, seorang mahasiswa PhD harus lulus ujian komprehensif tertulis dan lisan yang mengujikan mata kuliah-mata kuliah yang telah diselesaikan selama 2 atau 3 tahun itu.
Ujian komprehensif ini adalah sumber stress yang tiada taranya...:-). Sebulan sebelum ujian komprehensif, dijamin makan nggak enak dan tidur pun tak nyenyak. Bergantung tradisi di kampus (jurusan) masing-masing, biasanya ujian komprehensif berlangsung dua hari, masing-masing berlangsung dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Di hari pertama, diberi 6 soal untuk dijawab selama tujuh jam tersebut, tutup buku alias closed book. Demikian juga hari kedua. Biasanya ada selisih waktu antara ujian hari pertama dan kedua, di tempat saya belajar ini kedua ujian itu dipisahkan satu minggu.
Setelah lulus ujian komprehensif, baru kita diperkenankan membuat proposal dan menulis disertasi. Kalau gagal dalam ujian komprehensif, seorang mahasiswa PhD diberi kesempat mengulang hanya satu kali di semester berikut. Kalau masih gagal, ditendang keluar dari program.
Kalau Anda adalah seorang yang rajin, sangat independen dan disiplin dalam belajar, British system adalah alternatif yang paling baik karena memberi kebebasan sangat luas. Untuk orang pemalas seperti saya, sistem Amerika memaksa saya untuk membaca dan kuliah.
Background kedua adalah bagaimana mahasiswa PhD Amerika dibiayai. Hampir tidak ada mahasiswa pasca sarjana (program master atau doktoral) di Amerika yang kuliah dengan biaya sendiri. Umumnya beasiswa datang dari kampus masing-masing (disebut dengan graduate assistantship). Jadi, mahasiswa harus mengikuti seleksi ketat untuk bisa diterima program pasca sarjana, karena kampus akan memilih-milih siapa yang akan mereka beri beasiswa.
Dengan graduate assistantship, si mahasiswa dibebaskan dari tuition fee (namun tetap membayar student fee yang akan saya ceritakan dibawah). Dengan assistantship mereka mendapat stipend bulanan untuk biaya hidup. Kompensasinya, para mahasiswa ini wajib bekerja di kampus, seminggu 20 jam, disamping beban kuliah 9 credit hours tiap semester. Dengan stipend secukupnya itu (cukup buat bayar sewa apartemen, tagihan rutin listrik, air, belanja mengisi kulkas yang selalu cepat kosong), dan beban pekerjaan kampus yang lumayan, kehidupan mahasiswa pasca sarjana di Amerika boleh dibilang, meminjam Bung Karno, vivere pericoloso alias the years of living dangerously.
Coursework saya sebagai mahasiswa program doktoral sudah selesai. Juga sudah lulus ujian komprehensif tiga semester lalu. Sekarang 'tinggal' mengurus disertasi, yang entah kapan akan selesai...:-)
Saya beruntung mendapat beasiswa Fulbright dari pemerintah Amerika. Beasiswa Fulbright disediakan untuk tiga tahun. Setelah tiga tahun, diambil alih oleh kampus. Dengan background seperti tadi, adalah hal amat sulit untuk bisa menyelesaikan program doktoral di Amerika dalam waktu tiga tahun.
Dengan beasiswa Fulbright, untuk tiga tahun pertama saya beruntung tidak kena kewajiban bekerja di kampus selama 20 jam per minggu itu. Ada rumus sederhana studi pasca sarjana di sini. Bahwa seorang mahasiswa doktoral minimal menyediakan waktu membaca/belajar di luar kelas sebanyak 2 kali jumlah credit mata kuliah yang diambil. Kalau satu mata kuliah bernilai 3 credit hours, maka untuk mata kuliah itu bersiaplah belajar sendiri di luar jam kuliah sebanyak 6 jam per minggu. Kalau mengambil tiga mata kuliah (alias 9 credit hours), maka waktu belajar yang harus disediakan untuk membaca semua materi adalah 18 jam per minggu.
Intinya, dengan beasiswa itu selama tiga tahun pertama, saya bisa 'hanya' kuliah tanpa bekerja, dan mempersiapkan ujian komprehensif tanpa gangguan. Kalau saya harus bersiap ujian kompre sambil bekerja 20 jam di kampus itu, mungkin saya tidak akan lulus.
Bekerja 20 jam itu bisa lebih panjang. Karena, kita harus memeriksa pe-er mahasiswa S1, terkadang ikut membuat soal, dan memeriksa ujian mereka. Tidak bisa dilakukan asal-asalan, karena mahasiswa S1 berhak komplain dan melihat hasil pemeriksaan yang kita lakukan.
Setelah beasiswa Fulbright habis tiga tahun, saya mendapat graduate assistantship dari sebuah lab studi kuantitatif di kampus yang dibiayai bersama oleh Departemen Sosiologi dan Departemen Ilmu Politik tempat saya belajar. Lab ini adalah hub kedua departemen yang dipakai oleh para profesor yang mengajar mata kuliah-mata kuliah dengan komponen kuantitatif. Lab ini mereka pakai untuk lab session mereka (biasanya untuk tiap mata kuliah kuantitatif ada dua kali pertemuan setiap minggu, ceramah di kelas dan lab session dimana mereka bergumul dengan software statistik seperti SPSS, arcGIS, stata, ataupun software penelitian kualitatif seperti HyperResearch).
Konsekuensinya, mahasiswa pasca sarjana yang bekerja di lab itu harus berusaha menguasai mata kuliah2 dari berbagai profesor itu. Minimal kami harus tahu pe-er mereka, karena mahasiswa akan mengerjakan pe er di lab yang, kalau tidak di booking untuk kuliah, buka setiap hari dari pagi hingga malam. Kami harus menjadi tutor mereka saat mereka mengerjakan tugas atau mempersiapkan ujian. Boleh dibilang, 20 jam itu hanya on paper. Karena, nyatanya mungkin bisa lebih karena mahasiswa bisa bertanya kapan saja.
Saya juga menjadi asisten untuk seorang profesor sosiologi pengajar metodologi kuantitatif (yang adalah direktur lab tempat saya bekerja), baik untuk mahasiswa S1 dan pasca sarjana. Dia mengajar dua mata kuliah S1, dan satu mata kuliah pasca sarjana (awal semester ini dia dengan santainya bilang: i think it's good if you take my stat course this semester. jadilah semester ini saya ambil kuliah dia walaupun coursework saya sudah selesai. Toh, saya rasa akan berguna di kemudian hari, minimal bisa 'ngobrol' dengan teman-teman sesama peneliti di departemen ekonomi CSIS yang sudah lama bergelut dengan statistik...:-) Lagipula, profesor ini anggota komite disertasi saya, jadi hampir tidak mungkin mengelak 'ajakan' dia itu..haha).
Dua mata kuliah S1 yang diasuh olehnya adalah kuliah Critical Thinking untuk lower level (mahasiswa tahun kedua), dan kuliah upper level statistik sosial lanjutan (untuk mahasiswa tahun ketiga/empat). Saya jadi asistennya di dua kuliah ini.
Kuliah ini diikuti mahasiswa dari jurusan-jurusan lain, ada dari sosiologi, psikologi, politik, health science, nursing, ekonomi, komunikasi, engineering, dan lain-lain. Entah kapan di Indonesia bisa berlaku hal seperti ini, dimana mahasiswa bisa belajar bebas lintas jurusan, yang saya rasa bagus sekali. Untuk mahasiswa yang bersangkutan, mereka belajar multiperspektif sejak awal. Kelas menjadi lebih kaya lewat dinamika partisipasi dalam kelas lintas jurusan.
Karena menjadi asistennya, saya harus ikut masuk dalam kelas nya, seminggu dua kali. Juga lab session. Kalau saya sekarang sedikit tahu soal statistik, mungkin bukan karena saya mengerti. Tapi karena hapal setelah mendengar kuliah itu berulang-ulang tiga semester terakhir.....:-)
Satu hal yang membuat saya bersemangat adalah melihat mahasiswa-mahasiswa ini. Mahasiswa-mahasiswa ini devoting their time untuk bikin pe-er. Lab kami boleh dibilang selalu penuh dengan mahasiswa yang mengerjakan pe-er, dari pagi hingga malam. Mereka memanfaatkan betul para tutor yang bertugas bergilir di lab. Saya melihat, bahwa mereka ingin betul 'menaklukan' materi-materi yang tidak mereka pahami. Mengerjakan pe er dengan sungguh-sungguh. Mengerjakan pe er tidak harus satu hari selesai. Kadang mereka cicil, hari ini selesai 3 soal, besok atau lusa lanjutkan tiga lagi.
Mahasiswa S1 di Amerika umumnya bekerja part time untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, karena tidak lagi dibiayai orang tua masing-masing. Maka, beruntunglah mahasiswa S1 di Indonesia yang umumnya masih dibiayai orangtua, waktu tidak tersita untuk bekerja demi survival, semestinya bisa belajar jauh lebih maksimal karena waktu terbentang luas.
Karena itu, mahasiswa-mahasiswa S1di Amerika ini mengatur jadwal setiap hari dengan ketat dan disiplin. Mereka memilah antara waktu kuliah, belajar sendiri bahan kuliah di luar kelas, bikin tugas, dan bekerja. Juga pacaran. Saya pernah tidak sengaja mendengar seorang mahasiswa sedang bikin tugas di lab, dapat telpon dari pacarnya. Saya dengar dia memaki "Honey, shut up! I am trying to do my assignment here. I'll call you when I am done." hahaha. Karena harus mengatur waktu yang sempit ini, mahasiswa ini pastinya akan critical dan marah kepada dosen-dosen yang tidak serius mengajar dan tidak memberi nilai tambah.
Mereka juga paham betul soal student fee yang mereka bayar setiap tahun seperti saya sebut diawal tadi. Student fee yang harus dibayar jumlahnya bikin ngilu, per semester sekitar 1200-an dollar.
Student fee ini diperuntukan untuk kegiatan-kegiatan mahasiswa, asuransi kesehatan,fasilitas teknologi kampus (email dan lab-lab komputer general yang tersebar di seluruh kampus), bayar kertas untuk printing bahan-bahan kuliah, juga untuk membiayai lab-lab khusus seperti lab studi kuantitatif tempat saya bekerja (misalnya membayar lisensi semua software yang disediakan, gak pakai software bajakan..hehe), biaya praktikum, dan lain-lain.
Tidak mungkin ada penyunatan dana student fee ini oleh departemen masing-masing, karena semua transparan. Mahasiswa mengerti betul hak-nya setelah mereka memenuhi kewajibannya (membayar student fee). Kalau dalam breakdown student fee tertulis untuk lab dan praktikum, maka uang itu sepenuhnya dialokasikan untuk lab dan praktikum mahasiswa.
Begitulah seharusnya kampus yang memahami betul tujuan pedagogis yang student-oriented. Jangan lupa, ada koran kampus yang dikelola mahasiswa yang galak. Sedikit saja ada yang mencurigakan soal dana-dana kemahasiswaan, tanpa ampun mereka sikat dalam editorial. Di tempat saya kuliah, rektorat memperlakukan koran mahasiswa dengan serius (bulan lalu, koran mahasiswa menurunkan editorial soal performance kepala polisi kampus, rektorat merasa harus membuat komite khusus untuk menyelidiki hal ini melibatkan jaksa dari negara bagian Illinois dan untuk sementara sang kepala polisi di bebas tugaskan sampai komite itu menyampaikan laporannya).
Selama bekerja di lab ini, saya bisa melihat perkembangan pemahaman mahasiswa-mahasiswa ini. Di awal semester, biasanya mereka seperti orang bingung 'dihajar' materi yang mungkin buat mereka seperti berbahasa planet Klingon. Namun, seiring kuliah berjalan, saya bisa melihat mereka semakin mengerti. Saya bisa lihat itu karena saya memeriksa pe er dan ujian mereka. Dan juga dari interaksi tutorial di lab ketika mereka mengerjakan tugas atau bertanya.
Saya dan profesor yang saya bantu itu sering terlibat percakapan tentang mahasiswa-mahasiswanya saat membahas pe er yang mereka kerjakan. Untuk mata kuliah Critical Thinking, biasanya kami bagi dua pe er yang kami periksa (si profesor tentu juga ikut periksa tiap minggu). Sebelum kami kembalikan kepada mahasiswa, biasanya kami saling bertukar. Saya melihat tumpukan pekerjaan mahasiswa yang dia periksa, dan dia melihat tumpukan pekerjaan mahasiswa yang saya periksa. Dengan demikian, konsistensi terjaga.
Seringkali saya memberi pendapat atas nilai yang dia berikan yang menurut saya terlalu rendah ataupun terlalu tinggi untuk setiap pertanyaan. Demikian juga dengan profesor itu, dia memeriksa hasil grading saya. Kami bisa mendiskusikan ulang grading instruction yang telah dia buat.
Sambil memeriksa, kami sering mendiskusikan intellectual hurdles yang kelihatannya dialami mahasiswa dalam memahami satu materi. Di bagian mana mereka tidak mengerti (kelihatan dari jawaban pe er-nya) dan bagaimana sebaiknya pengajaran dilakukan untuk membantu para mahasiswa ini mengatasi intellectual hurdles ini sehingga tujuan pedagogis belajar terpenuhi. Ini virtue lain pendidikan pasca sarjana di Amerika, yaitu bahwa profesor dan mahasiswa pasca sarjana yang menjadi asistennya menjadi seperti kolega, membangun hubungan kolegial.
Maka saya teringat Paulo Freire yang menulis buku Pedagogy of the Opressed, yang dulu sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Pendidikan Kaum Tertindas. Buku 'kiri' ini menimbang pentingnya pendidikan untuk pembebasan, bahwa guru yang baik sejatinya harus menjalankan peran sebagai murid. Anehnya, saya melihat itu di Amerika, entah di Amerika Latin tempat Freire menumpahkan rasa gundahnya terhadap proses pendidikan di sana.
Subscribe to:
Posts (Atom)