Catatan ringan ini dibuat oleh Philips Vermonte, seorang kawan yang sedang menyelesaikan disertasinya di departemen Ilmu Politik, Northern Illinois University, USA. Catatan ini diambil dari notes yang dia buat di facebook untuk para pembaca. Semoga bermanfaat, terutama bagi yang berminat belajar di Amerika Serikat. Selamat menikmati!
*****
Sedikit Cerita Tentang Kuliah Pasca Sarjana di Amerika
Oleh Philips Vermonte
Beberapa teman pernah bertanya-tanya tentang serba serbi kuliah di Amerika. Jadi saya bikin saja notes ringan ini. Sebelum mulai notes ini, ada baiknya saya ceritakan sedikit background bagaimana program pasca sarjana ilmu sosial diselenggarakan di Amerika, minimal di tempat saya kuliah. Ia agak berbeda dari apa yang dijalankan dalam British system (misalnya di Inggris dan Australia). Di Australia misalnya (saya dulu menempuh program master di Australia dengan keberuntungan mendapat beasiswa), secara umum di kampus-kampus Australia seorang mahasiswa PhD langsung 'diceburkan' ke dalam penulisan disertasi. Begitu mulai program, bisa langsung mulai menulis proposal disertasi, tentunya dengan bimbingan seorang profesor.
Tidak demikian dengan umumnya kampus Amerika. Seorang mahasiswa PhD harus mengikuti kuliah (coursework) selama kurang lebih 2 atau 3 tahun, belajar teori dan metodologi. Setelah selesai coursework, seorang mahasiswa PhD harus lulus ujian komprehensif tertulis dan lisan yang mengujikan mata kuliah-mata kuliah yang telah diselesaikan selama 2 atau 3 tahun itu.
Ujian komprehensif ini adalah sumber stress yang tiada taranya...:-). Sebulan sebelum ujian komprehensif, dijamin makan nggak enak dan tidur pun tak nyenyak. Bergantung tradisi di kampus (jurusan) masing-masing, biasanya ujian komprehensif berlangsung dua hari, masing-masing berlangsung dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Di hari pertama, diberi 6 soal untuk dijawab selama tujuh jam tersebut, tutup buku alias closed book. Demikian juga hari kedua. Biasanya ada selisih waktu antara ujian hari pertama dan kedua, di tempat saya belajar ini kedua ujian itu dipisahkan satu minggu.
Setelah lulus ujian komprehensif, baru kita diperkenankan membuat proposal dan menulis disertasi. Kalau gagal dalam ujian komprehensif, seorang mahasiswa PhD diberi kesempat mengulang hanya satu kali di semester berikut. Kalau masih gagal, ditendang keluar dari program.
Kalau Anda adalah seorang yang rajin, sangat independen dan disiplin dalam belajar, British system adalah alternatif yang paling baik karena memberi kebebasan sangat luas. Untuk orang pemalas seperti saya, sistem Amerika memaksa saya untuk membaca dan kuliah.
Background kedua adalah bagaimana mahasiswa PhD Amerika dibiayai. Hampir tidak ada mahasiswa pasca sarjana (program master atau doktoral) di Amerika yang kuliah dengan biaya sendiri. Umumnya beasiswa datang dari kampus masing-masing (disebut dengan graduate assistantship). Jadi, mahasiswa harus mengikuti seleksi ketat untuk bisa diterima program pasca sarjana, karena kampus akan memilih-milih siapa yang akan mereka beri beasiswa.
Dengan graduate assistantship, si mahasiswa dibebaskan dari tuition fee (namun tetap membayar student fee yang akan saya ceritakan dibawah). Dengan assistantship mereka mendapat stipend bulanan untuk biaya hidup. Kompensasinya, para mahasiswa ini wajib bekerja di kampus, seminggu 20 jam, disamping beban kuliah 9 credit hours tiap semester. Dengan stipend secukupnya itu (cukup buat bayar sewa apartemen, tagihan rutin listrik, air, belanja mengisi kulkas yang selalu cepat kosong), dan beban pekerjaan kampus yang lumayan, kehidupan mahasiswa pasca sarjana di Amerika boleh dibilang, meminjam Bung Karno, vivere pericoloso alias the years of living dangerously.
Coursework saya sebagai mahasiswa program doktoral sudah selesai. Juga sudah lulus ujian komprehensif tiga semester lalu. Sekarang 'tinggal' mengurus disertasi, yang entah kapan akan selesai...:-)
Saya beruntung mendapat beasiswa Fulbright dari pemerintah Amerika. Beasiswa Fulbright disediakan untuk tiga tahun. Setelah tiga tahun, diambil alih oleh kampus. Dengan background seperti tadi, adalah hal amat sulit untuk bisa menyelesaikan program doktoral di Amerika dalam waktu tiga tahun.
Dengan beasiswa Fulbright, untuk tiga tahun pertama saya beruntung tidak kena kewajiban bekerja di kampus selama 20 jam per minggu itu. Ada rumus sederhana studi pasca sarjana di sini. Bahwa seorang mahasiswa doktoral minimal menyediakan waktu membaca/belajar di luar kelas sebanyak 2 kali jumlah credit mata kuliah yang diambil. Kalau satu mata kuliah bernilai 3 credit hours, maka untuk mata kuliah itu bersiaplah belajar sendiri di luar jam kuliah sebanyak 6 jam per minggu. Kalau mengambil tiga mata kuliah (alias 9 credit hours), maka waktu belajar yang harus disediakan untuk membaca semua materi adalah 18 jam per minggu.
Intinya, dengan beasiswa itu selama tiga tahun pertama, saya bisa 'hanya' kuliah tanpa bekerja, dan mempersiapkan ujian komprehensif tanpa gangguan. Kalau saya harus bersiap ujian kompre sambil bekerja 20 jam di kampus itu, mungkin saya tidak akan lulus.
Bekerja 20 jam itu bisa lebih panjang. Karena, kita harus memeriksa pe-er mahasiswa S1, terkadang ikut membuat soal, dan memeriksa ujian mereka. Tidak bisa dilakukan asal-asalan, karena mahasiswa S1 berhak komplain dan melihat hasil pemeriksaan yang kita lakukan.
Setelah beasiswa Fulbright habis tiga tahun, saya mendapat graduate assistantship dari sebuah lab studi kuantitatif di kampus yang dibiayai bersama oleh Departemen Sosiologi dan Departemen Ilmu Politik tempat saya belajar. Lab ini adalah hub kedua departemen yang dipakai oleh para profesor yang mengajar mata kuliah-mata kuliah dengan komponen kuantitatif. Lab ini mereka pakai untuk lab session mereka (biasanya untuk tiap mata kuliah kuantitatif ada dua kali pertemuan setiap minggu, ceramah di kelas dan lab session dimana mereka bergumul dengan software statistik seperti SPSS, arcGIS, stata, ataupun software penelitian kualitatif seperti HyperResearch).
Konsekuensinya, mahasiswa pasca sarjana yang bekerja di lab itu harus berusaha menguasai mata kuliah2 dari berbagai profesor itu. Minimal kami harus tahu pe-er mereka, karena mahasiswa akan mengerjakan pe er di lab yang, kalau tidak di booking untuk kuliah, buka setiap hari dari pagi hingga malam. Kami harus menjadi tutor mereka saat mereka mengerjakan tugas atau mempersiapkan ujian. Boleh dibilang, 20 jam itu hanya on paper. Karena, nyatanya mungkin bisa lebih karena mahasiswa bisa bertanya kapan saja.
Saya juga menjadi asisten untuk seorang profesor sosiologi pengajar metodologi kuantitatif (yang adalah direktur lab tempat saya bekerja), baik untuk mahasiswa S1 dan pasca sarjana. Dia mengajar dua mata kuliah S1, dan satu mata kuliah pasca sarjana (awal semester ini dia dengan santainya bilang: i think it's good if you take my stat course this semester. jadilah semester ini saya ambil kuliah dia walaupun coursework saya sudah selesai. Toh, saya rasa akan berguna di kemudian hari, minimal bisa 'ngobrol' dengan teman-teman sesama peneliti di departemen ekonomi CSIS yang sudah lama bergelut dengan statistik...:-) Lagipula, profesor ini anggota komite disertasi saya, jadi hampir tidak mungkin mengelak 'ajakan' dia itu..haha).
Dua mata kuliah S1 yang diasuh olehnya adalah kuliah Critical Thinking untuk lower level (mahasiswa tahun kedua), dan kuliah upper level statistik sosial lanjutan (untuk mahasiswa tahun ketiga/empat). Saya jadi asistennya di dua kuliah ini.
Kuliah ini diikuti mahasiswa dari jurusan-jurusan lain, ada dari sosiologi, psikologi, politik, health science, nursing, ekonomi, komunikasi, engineering, dan lain-lain. Entah kapan di Indonesia bisa berlaku hal seperti ini, dimana mahasiswa bisa belajar bebas lintas jurusan, yang saya rasa bagus sekali. Untuk mahasiswa yang bersangkutan, mereka belajar multiperspektif sejak awal. Kelas menjadi lebih kaya lewat dinamika partisipasi dalam kelas lintas jurusan.
Karena menjadi asistennya, saya harus ikut masuk dalam kelas nya, seminggu dua kali. Juga lab session. Kalau saya sekarang sedikit tahu soal statistik, mungkin bukan karena saya mengerti. Tapi karena hapal setelah mendengar kuliah itu berulang-ulang tiga semester terakhir.....:-)
Satu hal yang membuat saya bersemangat adalah melihat mahasiswa-mahasiswa ini. Mahasiswa-mahasiswa ini devoting their time untuk bikin pe-er. Lab kami boleh dibilang selalu penuh dengan mahasiswa yang mengerjakan pe-er, dari pagi hingga malam. Mereka memanfaatkan betul para tutor yang bertugas bergilir di lab. Saya melihat, bahwa mereka ingin betul 'menaklukan' materi-materi yang tidak mereka pahami. Mengerjakan pe er dengan sungguh-sungguh. Mengerjakan pe er tidak harus satu hari selesai. Kadang mereka cicil, hari ini selesai 3 soal, besok atau lusa lanjutkan tiga lagi.
Mahasiswa S1 di Amerika umumnya bekerja part time untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, karena tidak lagi dibiayai orang tua masing-masing. Maka, beruntunglah mahasiswa S1 di Indonesia yang umumnya masih dibiayai orangtua, waktu tidak tersita untuk bekerja demi survival, semestinya bisa belajar jauh lebih maksimal karena waktu terbentang luas.
Karena itu, mahasiswa-mahasiswa S1di Amerika ini mengatur jadwal setiap hari dengan ketat dan disiplin. Mereka memilah antara waktu kuliah, belajar sendiri bahan kuliah di luar kelas, bikin tugas, dan bekerja. Juga pacaran. Saya pernah tidak sengaja mendengar seorang mahasiswa sedang bikin tugas di lab, dapat telpon dari pacarnya. Saya dengar dia memaki "Honey, shut up! I am trying to do my assignment here. I'll call you when I am done." hahaha. Karena harus mengatur waktu yang sempit ini, mahasiswa ini pastinya akan critical dan marah kepada dosen-dosen yang tidak serius mengajar dan tidak memberi nilai tambah.
Mereka juga paham betul soal student fee yang mereka bayar setiap tahun seperti saya sebut diawal tadi. Student fee yang harus dibayar jumlahnya bikin ngilu, per semester sekitar 1200-an dollar.
Student fee ini diperuntukan untuk kegiatan-kegiatan mahasiswa, asuransi kesehatan,fasilitas teknologi kampus (email dan lab-lab komputer general yang tersebar di seluruh kampus), bayar kertas untuk printing bahan-bahan kuliah, juga untuk membiayai lab-lab khusus seperti lab studi kuantitatif tempat saya bekerja (misalnya membayar lisensi semua software yang disediakan, gak pakai software bajakan..hehe), biaya praktikum, dan lain-lain.
Tidak mungkin ada penyunatan dana student fee ini oleh departemen masing-masing, karena semua transparan. Mahasiswa mengerti betul hak-nya setelah mereka memenuhi kewajibannya (membayar student fee). Kalau dalam breakdown student fee tertulis untuk lab dan praktikum, maka uang itu sepenuhnya dialokasikan untuk lab dan praktikum mahasiswa.
Begitulah seharusnya kampus yang memahami betul tujuan pedagogis yang student-oriented. Jangan lupa, ada koran kampus yang dikelola mahasiswa yang galak. Sedikit saja ada yang mencurigakan soal dana-dana kemahasiswaan, tanpa ampun mereka sikat dalam editorial. Di tempat saya kuliah, rektorat memperlakukan koran mahasiswa dengan serius (bulan lalu, koran mahasiswa menurunkan editorial soal performance kepala polisi kampus, rektorat merasa harus membuat komite khusus untuk menyelidiki hal ini melibatkan jaksa dari negara bagian Illinois dan untuk sementara sang kepala polisi di bebas tugaskan sampai komite itu menyampaikan laporannya).
Selama bekerja di lab ini, saya bisa melihat perkembangan pemahaman mahasiswa-mahasiswa ini. Di awal semester, biasanya mereka seperti orang bingung 'dihajar' materi yang mungkin buat mereka seperti berbahasa planet Klingon. Namun, seiring kuliah berjalan, saya bisa melihat mereka semakin mengerti. Saya bisa lihat itu karena saya memeriksa pe er dan ujian mereka. Dan juga dari interaksi tutorial di lab ketika mereka mengerjakan tugas atau bertanya.
Saya dan profesor yang saya bantu itu sering terlibat percakapan tentang mahasiswa-mahasiswanya saat membahas pe er yang mereka kerjakan. Untuk mata kuliah Critical Thinking, biasanya kami bagi dua pe er yang kami periksa (si profesor tentu juga ikut periksa tiap minggu). Sebelum kami kembalikan kepada mahasiswa, biasanya kami saling bertukar. Saya melihat tumpukan pekerjaan mahasiswa yang dia periksa, dan dia melihat tumpukan pekerjaan mahasiswa yang saya periksa. Dengan demikian, konsistensi terjaga.
Seringkali saya memberi pendapat atas nilai yang dia berikan yang menurut saya terlalu rendah ataupun terlalu tinggi untuk setiap pertanyaan. Demikian juga dengan profesor itu, dia memeriksa hasil grading saya. Kami bisa mendiskusikan ulang grading instruction yang telah dia buat.
Sambil memeriksa, kami sering mendiskusikan intellectual hurdles yang kelihatannya dialami mahasiswa dalam memahami satu materi. Di bagian mana mereka tidak mengerti (kelihatan dari jawaban pe er-nya) dan bagaimana sebaiknya pengajaran dilakukan untuk membantu para mahasiswa ini mengatasi intellectual hurdles ini sehingga tujuan pedagogis belajar terpenuhi. Ini virtue lain pendidikan pasca sarjana di Amerika, yaitu bahwa profesor dan mahasiswa pasca sarjana yang menjadi asistennya menjadi seperti kolega, membangun hubungan kolegial.
Maka saya teringat Paulo Freire yang menulis buku Pedagogy of the Opressed, yang dulu sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Pendidikan Kaum Tertindas. Buku 'kiri' ini menimbang pentingnya pendidikan untuk pembebasan, bahwa guru yang baik sejatinya harus menjalankan peran sebagai murid. Anehnya, saya melihat itu di Amerika, entah di Amerika Latin tempat Freire menumpahkan rasa gundahnya terhadap proses pendidikan di sana.
mesti banyak belajar dari p' Dani nih..., suami saya juga lagi ambil PhD di UH Manoa tapi masih semester 2. Thanks postingannya.., ada sharing yg sangat besar artinya buat kami yg baru di Us ini.
ReplyDelete