Saturday, December 12, 2009

Elaine, my next dream is Norway!

Kakiku melangkah ringan menyusuri lorong-lorong Dusable Hall. Aku baru saja menyelesaikan ujian terakhir semester ini. Artinya, hari-hari menegangkan penuh bahan bacaan dan makalah yang “mengganggu” tidurku satu bulan terakhir ini telah sampai pada titik akhirnya. Setidaknya hingga awal tahun depan.

Tidak dapat kumungkiri, dari beragam jenjang sekolah yang pernah kulalui, aku merasa ini yang paling berat. Bukan hanya karena ini jenjang pendidikan formal tertinggi (PhD), tetapi juga karena kerasnya sistem pendidikan di sini. Jauh lebih keras dari apa yang sebelumnya pernah aku bayangkan.

Jujur saja, sebelum berangkat ke Amerika, banyak yang telah mengingatkanku akan kerasnya ambil S3 di USA. Tapi aku tidak pernah menganggap “peringatan” itu terlalu serius. Sebab dulu, waktu ikut Pre-Departure program di IALF Bali sebelum S2 di Australia, “peringatan” yang sama tentang kerasnya pendidikan Barat juga pernah kudapatkan. Faktanya, sekolah di Australia tidak “seburuk” apa yang selalu didengung-dengungkan para instruktur. Biasa saja. Tak beda jauh dengan kuliah S2 di IAIN.

Aku bahkan sangat menikmati kuliah di Flinders. Saking “enjoy”-nya, tak merasa ada beban sama sekali. Kalau toh ada beban, itu hanya muncul sesekali saja. Terutama saat-saat sedang mendekati due date pengumpulan makalah. Selain itu, banyak waktu kosong, banyak waktu santai.

Ini juga yang saya kira menjadi salah satu penyebab mengapa banyak mahasiswa Indonesia “nyambi” bekerja di Australia. Bukan karena beasiswanya sangat sedikit, tapi karena banyaknya waktu luang. Tidak heran muncul kelakar di kalangan mahasiswa: Status yang mestinya “full-time student and part-time worker”, dalam praktiknya justeru terbalik menjadi: “Full-time worker and part-time student”. Aku tidak tahu apakah ini fakta yang hanya terjadi di Adelaide. Apakah di negara-negara bagian lainnya juga demikian? Saya tidak terlalu yakin.

Di Amerika, kita tidak bisa demikian. Aku melihat baik jenjang S2 maupun S3 semuanya sama-sama keras. Jangan coba-coba tidak membaca materi perkuliahan. Sebab penampilanmu akan persis seperti kambing congek di tengah riuh rendahnya diskusi kelas. Bagi mahasiswa S2, nilai tidak hanya soal “kumpul” makalah. Partisipasi di kelas dan penguasaan terhadap materi juga sangat menentukan.

Bagi mahasiswa S3, lebih keras lagi. Sebelum membuat proposal disertasi, kita harus melalui “comprehensive exam”, yang kata Kang Manto di Boston bisa membikin mata sayu, bibir pecah-pecah, dan perut melilit. Sebelum bisa mengikuti comprehensive exam ini, kita pun harus berhasil melewati setidaknya dua tahun perkuliahan. Tentu dengan sistem yang sanggup memaksa kita tidak bisa tidur tenang. Terutama jika kita tidak bisa fokus dan berdisiplin. Kata Kang Phillips Vermonte, “No pain, no gain!”. Tak kerja keras, maka tak dapat. Ungkapan yang megingatkanku pada pepatah Arab: “Al-ujrah biqadri al-ta’ab”. Upahmu tergantung kerja kerasmu!

Di atas semua itu, aku bersyukur telah sampai di Amerika dan mengenyam “manisnya” berjibaku dengan buku dan kerasnya cuaca. Aku tiba-tiba teringat Elaine. Guruku ini sangat berjasa dalam mendorong dan memotivasiku untuk sekolah di Amerika. “Your calling card, Dani!”, katanya suatu waktu empat tahun yang lalu setelah membaca tesisku. Dia juga yang memberiku rekomendasi yang sangat berharga, hingga akhirnya aku mendapatkan Fulbright dan kuliah di Amerika.

Kini, setelah sampai di Amerika, aku ingin kembali berjumpa dengannya. Aku pernah mengatakan padanya, aku ingin berkunjung ke Norwegia, negara tempat asalnya. Kukatakan padanya, aku ingin melihat legenda matahari tengah malam. Saat di mana matahari tak tenggelam selama 24 jam, dan kita bisa “shalat malam” di “siang hari”. Tapi kini, aku tak hanya ingin ke Norwegia untuk melihat dan merasakan legenda itu. Lebih dari itu, aku ingin menemui Elaine dan mencium tangannya. Aku ingin berterima kasih atas bimbingan dan motivasi-motivasinya yang tak pernah henti. Sayang, aku tidak pernah bisa lagi mengontaknya, hingga kini…

Terima kasih, Elaine Carey Belanger. Aku ingin melihatmu tahu bahwa aku sudah di Amerika. Aku ingin engkau bisa mendengar salam takzimku. Terimalah cium tangan muridmu ini. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan-kebaikanmu. Amien…

2 comments:

  1. Assalam... Mas Dani...
    Keep struggle brother & Good Luck... The God will be with Us...
    I wish, I could go there...
    But Now, I just back to Ozz again...

    Take care mate
    Cheers,
    Hardi

    ReplyDelete
  2. Wah, selamat ya! Saya turut senang. Good luck with your PhD studies...!

    ReplyDelete