Aku sungguh-sungguh berpengalaman hari itu. Berpengalaman menjadi “kambing congek” di kelas!
Sore itu aku ada kelas “Research Design”. Ini mata kuliah wajib untuk mahasiswa PhD di jurusanku. Materinya tentang “measurement”. Sesuatu yang, ironisnya, pernah aku ajarkan kepada para mahasiswaku di Indonesia.
Sang professor ke sana kemari menjelaskan tentang “measurement” beserta beberapa contoh. Aku sama sekali tak bisa mengejarnya. Ibarat berlari mengejar bis kota, susah payah aku mengejarnya, sopir jalan terus. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Aku yang menggonggong, kafilah tersenyum saja. Beberapa kali sang professor bertanya kepada mahasiswa di kelas. Tapi tak ada satu pun yang dapat kupahami. Jangankan jawabannya, pertanyaannya pun aku tak mengerti. Memang dia tidak bertanya khusus padaku. Tapi malunya, seperti sedang berada di kelas seorang diri. Aku malu. Malu pada diri sendiri. Apalagi kulihat beberapa kawan tampak aktif mengemukakan pendapat-pendapatnya. Dan aku, ingin rasanya menekuk kepala dalam-dalam. Atau bersembunyi, jongkok di bawah kursi!
Aku tahu kesalahanku. Kesalahan pertama adalah ketidakmampuanku menangkap dengan jelas bahasa Inggris sang professor. Aku tahu pasti, dia bukan professor yang jelek. Sebaliknya, dia terkenal sebagai seorang ahli di bidang research design. Dari bahasa tubuhnya ketika menerangkan sesuatu, aku tahu dia dosen yang sangat piawai. Sama sekali tidak menunjukkan dia dosen yang membosankan. Indeed, dia dosen yang sangat berpengalaman. Kadang-kadang saat mengemukakan contoh, dia tertawa. Dan yang lainnya pun ikut tertawa. Sementara aku, menertawakan diriku sendiri! Tak tahu apa yang harus ditertawakan.
Bahasa Inggris guruku ini, di telingaku terdengar seperti orang “nggremeng”. Mungkin karena dia sudah senior (He’s 60s!). Atau mungkin juga karena dia banyak menggunakan bahasa-bahasa pasaran khas “Illinois”, yang belum sepenuhnya dapat kuikuti. Tidak heran ketika dia mulai menjelaskan sesuatu, mulanya aku paham dia berbicara tentang apa. Tapi satu dua menit kemudian, dia hilang, Tak tahu kemana dan sampai di mana. Mirip shalatku yang tidak khusyuk. Waktu niat dan takbir, mantap mau menghadap Tuhan! Giliran di tengah, hilang tidak tahu sampai di mana dan ke mana sajah... ;)
Namun sebenarnya, kesalahan terbesarku bukan pada kegagalanku menangkap secara utuh bahasa Inggris professor ini. Kesalahan terbesarku adalah karena aku tidak membaca sama sekali materi kuliah hari itu. Baik buku teks maupun contoh-contoh paper riset yang dijadikan kajian. Dan ini yang sesungguhnya membuatku seperti kambing congek!
Aku bukannya tak tahu resiko tidak membaca bahan-bahan kelas tersebut. Tetapi dua hari terakhir ini, aku “disibukkan” dengan paper pertama yang harus ku-submit, juga untuk kelas Research Design ini. Apakah tugas paper tersebut datang mendadak? Tentu tidak. Kurangnya disiplin dan kemalasanku menepati time schedule yang kubuat sendiri adalah pangkal dari “kedunguan” di kelas sore itu. Aku masih menjadi “the last-minute person”. Kalau belum mepet saja, belum selesai pekerjaan. Dan hasilnya bisa ditebak: pekerjaanku belum tentu bagus, dan kesiapanku mengikuti kelas nyaris “zero”!
Walhasil, selama di kelas, aku merasa sangat tidak nyaman. Wirid yang selalu kulantunkan, semoga waktu berjalan cepat dan kelas segera berakhir. Celakanya, di sini dosen tidak akan mengakhiri waktu sebelum jadwal yang telah ditentukan. Kelasku ini mulai jam 15.30 dan baru akan selesai jam 18.10. Gosh….!
Kalau pun pada akhirnya kelas berakhir, itu juga bukan akhir dari penderitaanku. Sebab, dua puluh menit setelah itu, aku harus masuk lagi ke kelas lain. Dengan jumlah mahasiswa yang lebih sedikit. Hanya sekitar 10 saja. Anda tahu apa agenda kelas hari itu? Seminar kelas, yang mewajibkan mahasiswa membaca terlebih dahulu sejumlah jurnal paper untuk kemudian didiskusikan bersama. Dan aku, lagi-lagi belum membacanya dengan tuntas. Ibaratnya, lolos dari mulut harimau, tapi masuk ke mulut buaya. Sempurna sudah “penderitaanmu” hari itu, Kambing Congek!
Dusable Hall, NIU
Rabu, 30 September 2009
No comments:
Post a Comment