Syifa Amin adalah kawan saya. Dia juga seorang Fulbrighter, yang sedang menyelesaikan Program Doktor (S3) di Indiana University USA. Kami pernah tinggal bersama selama 3 tahun di Asrama MAPK (MAN I Jember). Di Amerika, ia dan keluarganya tinggal bersama seorang professor yang dunia kemudian mengenalnya sebagai salah satu penerima Nobel Ekonomi 2009: Elinor Ostrom. Bagi saya, ini sangat membanggakan sekaligus kesempatan sangat langka. Berikut catatannya yang dikirim untuk milis alumni MAPK
*****
Mudhoffar, Abdurrahman, Dani, dan temans sekalian,
Awalnya saya belum pernah mendengar nama Elinor Ostrom maupun Vincent Ostrom (suami Elinor). Sampai suatu saat di bulan Juni 2009 ada orang Filipina, temannya teman saya dan mantan murid Elinor Ostrom, memperkenalkan saya kepada Professor Elinor Ostrom. Katanya, Lin (begitu kami biasa memanggilnya tanpa embel-embel "Professor") membutuhkan orang yang mau tinggal di rumahnya. Rumahnya terletak di tengah-tengah 'hutan', jauh dari transportasi umum, dikelilingi pohon mapple, olive, dan macam-macam pohon yang tak kukenal namanya. Persisnya, saya ditawaran untuk tinggal di apartemen depan rumahnya yang memang disediakan untuk graduate student. Tujuannya agar ada orang yang bisa menjaga rumah dan suaminya (Vincent, a retired Professon, yang berusia 90) saat dia pergi. Lin, meski sudah berusia 76 tahun, seringkali bepergian ke luar negeri dan ke luar kota untuk ceramah, konferensi, menerima penghargaan, dan lain-lain.
Si orang Filipina yang merupakan dosen NUS Singapura itu bilang bahwa Lin dan Vincent adalah orang yang sangat baik dan mempunyai 'nama besar' di bidangnya. Mendengar penggambaran seperti ini saya awalnya ragu untuk mengiyakan tawarannya untuk bisa tinggal bersama Lin dan Vincent. Nyali sudah ciut duluan. Tapi setelah bertemu dengan orangnya langsung dan berkunjung ke rumahnya, bayangan saya tentang profesor yang punya nama besar ini berubah.
Tadinya saya kira yang namanya profesor senior itu studious, nggak bisa senyum, kerjaannya belajar dan kerja terus (terbayang John Nash di film " A Beatiful Mind"). Ah, ternyata pasangan profesor yang satu memang sangat baik dan rumahnya juga sederhana. Begitu saya dan keluarga datang ke rumahnya, mereka langsung menyambut kami dengan hangat dan antusias. Bukan sambutan yang basa-basi. Keramahan keduanya menghapuskan keraguan saya. Kehangatan yang mereka tunjukkan menghilangkan bayangan-bayangan saya tentang professor ala John Nash.
Akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk mau tinggal di apartemen depan rumah mereka itu. Gratis. Cuma tinggal bayar listrik saja. Dan Lin juga bilang bahwa rumahnya adalah rumah kami juga. Pokoknya kami tidak boleh memiliki rasa sungkan untuk keluar masuk rumah atau mengambil makanan di rumahnya. Saya dan keluarga sudah dianggap sebagai famili, persisnya anak-anak mereka sendiri (karena Lin dan Vincent tampaknya tidak mempunyai anak).
Hari-hari kami jalani dengan rutinitas yang kemudian jadi kebiasaan; ambil koran di pagi hari untuk Vincent, bersih-bersih halaman, menata bunga, menjaga perpustakaan Vincent agar tidak lembab, memotong ranting untuk persediaan musim dingin, dan sebagainya. Sampai suatu pagi, kira-kira jam 7.30am, saat saya memberikan koran untuk Vincent, saya lihat di ujung ruangan Lin sedang memegang gagang telpon dengan mata yang masih belum melek betul. Vincent membisikkan sesuatu kepada saya, "Lin, mendapatkan Nobel Prize in Economics 2009!" Saya kaget. Rasa kagum, bahagia, dan bangga bercampur-campur. Langsung saya lari ke apartemen, menyalakan komputer dan mendengar interview live-nya dengan wartawan, panitia, dan juri nobel di Stockholm.
Setelah wawancara selesai, saya ajak istri dan putri saya ke rumah Lin untuk mengucapkan selamat. Serentak kami mengucapkan, "Congratulation! " Tampak Lin baru saja menutup telponnya dan menghampiri kami dengan kegembiraan meluap tapi tampak ditahan agar tidak terlalu membuncah. Dia memeluk Melani, istriku, dan Ayesha, putriku, dan kemudian menunjukkan kepada kami ratusan email yang langsung memenuhi inbox-nya. Telpon juga tidak berhenti berdering. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa bunga. "Ternyata aku benar-benar tinggal bersama orang yang punya 'nama besar'," batinku. Aku baru menyadari akan hal ini karena Lin yang kutahu selama ini adalah Lin yang menjadi 'nenek' bagi putri saya di rumah. Lin yang menata bunga bersama kami. Lin yang mencabuti rumput halaman bersama kami. Bukan Lin seorang scholar yang pikirannya menginspirasi dan mempengaruhi banyak orang.
No comments:
Post a Comment